Jodoh

Beberapa bulan lalu, persis dua hari sebelum anniversary ketiga, Z dan saya menutup hubungan kami. Kami mendapat moment turning point masing-masing dan sampai pada kesimpulan kalau: hubungan ini ga bisa dilanjutin. Kalau ternyata di kemudian hari dia masih punya tendensi dan keyakinan terhadap saya, orang tua saya-lah yang perlu langsung dia hampiri; bukan dengan hubungan yang menggelisahkan hati ini. Kami berusaha meniti ilmu ikhlas dan berpikir “kalau jodoh, pasti ketemu lagi. Kalau bukan jodoh, yaudah Allah punya rencana yang pasti lebih baik“.

Dan persis di hari ini, saya dapet cerita bahagia dari Z kalau dia sedang merajut kisah baru. Denger dia cerita dengan nada semangat dan bahagia tentang bagaimana dia yakin akan hubungannya, saya jadi ikutan bahagia banget sampai terharu. Saya dikasih tau siapa orangnya, dan saya ngerasa dia cocok mendampingi Z. Lebih cocok dibandingin saya *serius*, yang bikin saya suppeeeer happy. Lega. Bahagia. Sehingga, berhubung masih ada yang salah paham akan cerita kami, I think that I need to publish this story :) 

Proses hingga kami sepakat untuk menutup kisah tiga tahun kami tentu ga berjalan mulus begitu aja. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar. Apalagi saya bahagia dan bangga dengan hubungan kami. Dia udah jadi sahabat terbaik, rumah tempat kembali, orang yang memegang kepercayaan penuh, dan tiang yang menyangga kewarasan diri saya. Dia-pun mengaku bahagia dan selalu mengusahakan apa yang dia bisa untuk memperkuat ikatan kami. Kami juga sudah membicarakan jenjang selanjutnya, bahkan bahasan penting-ga-penting kayak warna interior di kamar setelah nikah udah diobrolin.

Tapi, seperti yang saya katakan ke banyak temen yang mempertanyakan keputusan kami, “pacaran” & “proses mendekatkan diri ke Allah” memang ga akan bisa sejalan. Excuses apapun (”biar ada yang bangunin tahajud” “biar ada yang ingetin sholat/puasa“abis ini berniat nikah kok”) ga bisa valid.

Saya mengatakan ini dari pengalaman tiga tahun. Selama tiga tahun itu, sebenernya ada beberapa moment saya kepikiran mengakhiri hubungan ini karena alasan agama; tapi saya selalu ga punya keberanian untuk mengeksekusinya. Selama tiga tahun itu, seberusaha apapun saya untuk mencoba mendekatkan diri ke Allah, ketaatan saya ga maksimal karena berasa ada sekat (self-guilty maybe) yang menghalangi untuk benar-benar berserah kepada-Nya. Walau saya juga masih meraba-raba ilmunya, saya tau kalau hubungan antarlawan jenis dalam Islam udah sangat diatur (1, 2, 3). Walau – to be honest – hampir semua larangan dalam berinteraksi tersebut udah pernah saya langgar, Az Zumar: 53-54, selama masih dikasih waktu sama Allah ga ada kan kata terlambat untuk memulai ke arah yang lebih baik? Tentu, dosa-dosa yang saya lakukan selama menjalani hubungan-hubungan yang lampau bakal perlu saya pertanggungjawabin di akhirat; tapi saya ga sekebal itu untuk sengaja menambah tumpukan dosa yang udah banyak. Kesiram minyak aja udah mengaduh kepanasan apalagi harus makin lama di neraka…

Sampai ada satu moment, saya berada di persimpangan. Saya ketemu orang lain  yang saat saya memandang dia, saya seolah memandang diri saya sendiri dengan versi lebih baik. Makin dan makin kami ngobrol, saya makin yakin dengan dia. Singkat cerita: saya harus memilih. Di kebimbangan itu, pada siang hari, saya mengambil wudhu untuk sholat dhuhur yang hampir lewat waktunya. Di saat itu, tiba-tiba hati saya merasa sesak. Sangat, sangat sangat sesak seperti mau nangis dan tiba-tiba terlintas kesadaran “Ya Allah. Kapan terakhir kali saya berwudhu dengan benar? Dengan sepenuh hati? Dengan berserah diri kepada-Mu?”. Saya tiba-tiba rindu, sangatttttt rindu akan getaran hati saat beribadah kepada-Nya. Setelah sholat, saya nangis sejadi-jadinya karena saat itu kadar keimanan saya sedang sangat minim. Jangankan sholat sampai bergetar hatinya, gambaran rendahnya level religius saya pada saat itu: sampai perlu menjadikan “ga akan dengan sengaja sholat Subuh lewat waktunya” sebagai nadzar.

Akhirnya, saya memilih untuk: tidak memilih. Alhamdulillah, Z juga sedang berusaha meningkatkan kapasitas agama dan sepakat kalau pacaran bertentangan dengan agama Islam. <Saya perlu menekankan kalau di kisah barunya Z sekarang, Z udah ngomong ke si pihak wanita kalau dia ga bisa pacaran dan akan langsung ke hubungan yang lebih lanjut.> Alhamdulillah, si orang lain juga sama sekali ga mau meneruskan interaksi kami karena dia tiba-tiba teringat kalau interaksi lawan jenis harus dibatasin dalam Islam. *Subhanallah, Allah selalu punya rencana tak terduga untuk menunjukkan jalan-Nya*

So, bisa ngerti kan kenapa saya bahagia nan lega begitu tau Z menemukan kisah baru? Walau dia bilang ikhlas dan baik-baik aja, tapi saya tau kalau saya udah nyakitin dia. Padahal Z adalah orang paling sweet, baik, family man, pekerja keras, dan bertanggung jawab yang pernah saya kenal; siapapun yang dapet dia akan bersyukur dan bahagia. Apa yang saya capai sekarang juga ga akan tercapai tanpa bantuan dia. Sehingga saya bener-bener berharap dia mendapat yang terbaik dan bisa bikin dia bahagia dunia akhirat :) Hubungan kami berakhir karena memang harus berakhir aja. Dan, di obrolan hari ini, kami berdua sepakat kalau kami bersyukur hubungan ini telah kami tutup. Yes, I know that for some people he means me and I mean him but please do move on because we already did.

Walaupun tentu, karena udah terbiasa menjalani hubungan bertahun-tahun yang nyaman, ada banyak fase saya desperate nunggu jodohBanyak waktu saya ngerasa kalau besok pagi bisa akad, mau banget deh akad sama siapapun yang dateng ke wali dan bisa bikin istikharah saya dan orang tua yakin. Meratap dan menangis dalam doa, rasanya makin desperate. Ga sabar dikasih jawaban akan pertanyaan siapa jodohku.

Tapi di puncak dari moment-moment itu, tiba-tiba, saya dihantam sama kesadaran kalau: Saya doa-nya ga pasrah. Jauh dari berserah diri. 

Saya dengan sombong ngerasa masih ada “usaha manusia” yang bisa dilakuin buat memaksakan jodoh saya segera dateng. Merasa “kalau gw lebih berkualitas, si jodoh bakal segera lamar”. Jadinya karena usaha memantaskan diri belum membuahkan hasil, rasanya tambah frustasi. Tambah kopong. Tambah galau. Saya kemarin-kemarin berdoa, berusaha, tapi maksa Allah untuk segera ngasih jawaban. Karena belom dikasih, jadi bete.

Kurang sombong apa? Berasa ga sadar kalau jodoh itu urusan-Nya. Bahkan kalau Beliau mau, bisa aja di dunia saya ga dikasih jodoh sama sekali. Mau sesholeh apapun (which I haven’t), sepinter apapun (which I haven’t), se-blabla-apapun; kalau Dia ga berkenan (dan Dia Maha Memutuskan, tanpa perlu ngasih tau alasannya ke kita) ya kita ga akan dikasih.

Mungkin, itu kenapa kita diajarinnya untuk memohon dikasih “kasih sayang-Nya”? Diberi “belas kasih-Nya”? Bukan minta “bayaran atas usaha” kita.

Karena yang dikasih Allah belom tentu linear sama usaha kita.

Mau usaha kita 100, bisa cuma dikasih 10. Mungkin, untuk melihat kadar kesabaran kita. 

Tapi, di lain waktu, saat usaha kita 10, bisa dikasih 100. Mungkin, untuk menguji gimana kita bersyukur. 

Pada akhirnya, memutuskan suatu hubungan itu memang berat. Apalagi kalau udah berjalan lama, nyaman, dan dia menjadi salah satu pilar utama yang menopang kewarasan diri. Tapi makin berat pengorbanan kita, bukannya eskalasi dirinya akan makin tinggi? Hasbunallahu wa ni`mal Wakil’. Cukuplah Allah bagiku. Allah bakal menggantikan yang kita korbankan. InsyaAllah.

I wont judge yang sedang berada di suatu hubungan karena pada jamannya saya juga risih ngeliat kampanye “Udah Putusin Aja” di media-media sosial. Dijudge seperti itu ga nyaman di hati dan buat saya ga membantu menyadarkan dan justru membuat defensif. I believe that every one has their own turning points and the right time to do the right things, insyaAllah. Walau, tetep jadi pilihan kita untuk menyikapi saat turning point sebenernya udah menyapa: mau disambut atau di-bye-byein dari jauh aja :)

Akhir kata, saya mohon doa supaya usaha saya untuk menjaga hati dan meningkatkan kapasitas diri ini mendapat kelancaran, mohon juga diingatkan kalau saya melenceng kembali. Dan untuk ikhwan-ikhwan, tolong bantu saya dalam menjaga hati dengan tidak mengirimkan sapaan apapun di media sosial jika tidak mempunyai keperluan. Saya insyaAllah akan dengan senang hati merespon pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pengetahuan saya (akan beasiswa, kuliah, atau sejenisnya) tapi mohon maaf di luar itu sepenuhnya saya abaikan. Saya ga menutup pintu literally untuk siapapun, tapi kalau serius mohon bisa langsung ke wali saya aja. Sejauh ini kriteria saya cuma tiga: 1) agama, 2) menghargai dan menikmati proses mencari ilmu, dan 3) ahli syukur. Seperti yang saya ceritakan di atas, saya melepas orang luar biasa karena alasan agama. Sehingga saya sama sekali ga berminat akan interaksi yang tidak sesuai dengan kaedah agama, apapun judulnya. Saya sedang merangkak belajar dan keteguhan hati saya masih jauh dari sempurna, jadi tolong jangan diganggu :)

Semoga Allah merahmati usahamu dan usahaku.

Advertisements

5 responses to “Jodoh

  1. True story y? #critany bgus ;)

  2. Bagus banget Mba Fira tulisannya dan makin membuat saya sadar mba kalau jodoh itu sempenuhnya ditanggan allah.
    share pengalaman sedikit yaa mba, dulu waktu saya masih SMA saya perna pacaran sampai kita 1 kuliahan yang sama tapi berbeda jurusan, saya ngerasa dia orang yang terbaik dalam hidup saya, orang yang benar benar bisa merubah hidup saya mulai dari urusan sekolah sampai keurusan agama, saya yakin seyakin yakinnya bahwa dia adalah jodoh yang terbaik dari allah untuk saya, memang beberapa kali kita sering berselisih karna kesalah pahaman dan beberapa x allah berusaha memisakan kami tetapi saya terus memaksakan hubungan itu terus saya memaksakannya walupun orang tua kami juga tidak setuju dengan hubungan kami dan lagi lagi kami memaksakan kehendak itu dan akhirnya kamipun menikah.

    Tapi justru setelah kami menikah disitulah allah benar benar menunjukan bahwa saya dan dia memang benar benar bukan jodoh yang tepat dan memang harus berpisah.
    Hubungan pernikahan kami hanya berjalan 5 atau 6 bulan (saya sudah tidak mau memikirkannya) dan kami pacaran selama kurang lbh 4 sampai 5 tahun. Sampai saat ini saya masih tidak tau sebanarnya siapa yang salah didalam pernikahan kita, tiba-tiba surat perceraian datang kerumah saya dan lagi lagi saya memohon kepadanya untuk tidak menceraikan saya dengan alasan masa depan kita masih panjang kita masih distart masih jauh kedepannya, masih banyak harapan, masih jutaan mimpi yang belum digapai tapi dengan nadah menyombongkan diri dia hanya beberapa kata yang membuat saya benar benar hancur yaitu KITA PISAH AJA DULU, KALAU JODOHKAN NANTI BISA BALIK LAGI.

    Setelah kita bercerai, disitulah saya merasa semua yang dipaksakan memang tidak akan berjalan baik dan pasti akan berantakan kedepannya.
    setelah itu saya memulai kehidupan yang lbh baik dan baik lagi saya berusaha benar benar memperbaiki diri saya, memantaskan diri saya jauh lbh baik lagi karna saya membaca sebuah buku didalam buku itu tertulis jodohmu cerminan mu. Dan saya benar benar pasrah akan kuasanya allah saya tidak mau menentang apapun dari kehendaknya saya berusaha berjalan sesuai skema yang diberikannya.
    dan in shaa allah berkat ijinnya setelah saya berusaha memantaskan diri, memperbaiki diri dan terus berusaha lebih baik dan baik lagi, akhirnya saya dipertemukan dengan seorang yang in shaa allah lebih baik dari yang sebelumnya, dia yang menerima saya apa adanya dan menerima saya, dengan banyakk kekurangan yang saya miliki dan in shaa allah dia jodoh yang memang diberikan oleh allah.
    in shaa allah tanggal 2 april 2017 ini kita ingin menikah.
    Hanya sekedar memberi saran untuk mba fira agar lebih bersabar menanti jodohnya. karena yang terbaik akan datang setelah semua kesabaran dan keihklasan kita menunggu dan jgn perna melihat seseorang dari sisi negatifnya dimasalalunya karena kita hidup untuk masa depan bukan untuk masalalu.

  3. Mantab sharingnya. Thanks

  4. YaAllah, saya nemu tulisan ini disaat saya juga lagi ngerasain hal yang sama kak.
    Beberapa bulan yang lalu saya juga ada hubungan dengan laki laki yang menurut saya baik banget,
    Tapi entah kenapa hati saya gak nyaman dan ngerasa kalau saya semakin jauh sama Allah. Saya gak lagi ngerasa ada getaran di hati ketika sholat ataupun baca qur’an.
    Hingga akhirnya Allah nunjukin jalan, kita diberi cobaan dan akhirnya disitu lah saya tahu, Allah sedang memberi peluang pada saya untuk mengakhirinya.
    Keputusan saya bulat setelah itu. Saya mengakhiri hubungan dengannya. Kemudian saya sholat taubat. Dan alhamdulillah tiba tiba saja saya seperti disambut kembali oleh Allah.
    Hati saya begitu sakit hingga menangis sejadi jadinya. Dan saya mendapat ketenangan yang luar biasa setelah itu.
    Saya tidak peduli pada orang orang yang bilang kalau saya ini bodoh karena melepaskan orang yang begitu baik dan sayang dengan saya.
    Saya tidak peduli bagaimana pandangan orang lain tentang saya. Yang penting Allah masih mau menatap saya.
    Bismillah Allah tau yang terbaik. Semoga kita selalu istiqomah.
    Tulisan kak Fira sudah menguatkan kembali niat saya. Semoga kak Fira selalu diberkahi Allah SWT 🙏 aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s