Why him?

Selamat malam orang-orang yang sedang menikmati & memperjuangkan suatu hubungan. Ijinkan saya mengajukan pertanyaan singkat: have you ever asked your self something like “is he/she really the one for me?”

Kalau saya, pernah.

Di banyak bulan awal, saya masih jadi saya yang suka ngelunjak & mikir: “ah paling kalau putus, aku bisa dapet yang lebih keren, lebih pinter, lebih prospek, lebih x y z”. Tapi makin kenal dia… saya ternyata harus takluk.

Kami kenal udah cukup lama. Tapi baru deket sejak dia jadi ketua organisasi tempat saya beramanah; dan saya baru tertarik ke dia lama setelahnya.

Waktu itu, karena hujan deres, dia nganterin cewe-cewe pulang dari kegiatan organisasi. Saya (sengaja dia plot) dianter terakhir. Terus kami ngobrol basa-basi biasa. Saya nanya rencana dia ke depan mau ngapain. Dia juga nanya apa rencana saya.

Saya bilang “aku mau lanjut S2 di Ekonomi Pembangunan Zak. Cita-citaku ngebangun desa”. Dia termenung “…” “Sama. Aku juga”

Since that, saya jadi ngeliat dia dengan cara yang beda. Kaget. Karena sejujurnya penampilannya bukan tipe orang yang peduli sama hal-hal pengabdian. Tapi ternyata dia jauuuhhh lebih peduli, nasionalis, & idealis dari penilaian saya. Bahkan harus saya akui, dia lebih peduli, nasionalis, & idealis dari saya. 

Dia lebih peduli. Dia anak tunggal dengan jiwa anak sulung.  Kalau ada makanan enak, dibagi ke sekeliling. Lagi hujan deres di kampus, yang dia pikirin “Aku mau beli martabak dulu. Kasian satpam-satpam”. Pas mau delivery makanan dari pulau sebelah, dia ga pelit buat “aku bagi sama ibu kosan kok”. Waktu hujan deres banget & ngeliat ada orang ngedorong mobil mogok, dia langsung nyamperin & hujan-hujanan bantu ngedorong mobil.

Dia lebih nasionalis. Cita-cita saya berbakti buat Indonesia. Tapi ternyata, saya harus mengakui saya belum seekspresif dia ngutarain nasionalismenya. Saya belum sampai waktu di restoran ada tayangan debat capres & diputer lagu Indonesia Raya: langsung berdiri, sikap hormat, dan nyanyi Indonesia Raya.

Dia lebih idealis. Terutama kalau tentang aturan lalu lintas. Selama bisa, dia ga akan mau ngelanggar peraturan lalu lintas apapun. Kalau saya belum pake safety belt, dia bakal diem lama nungguin saya selesai make safety belt baru mau jalan.

Dia pacar yang pengertian & perhatian. Gigih. Perferctionist. Rapi. Suka kebersihan & keteraturan. Cerdas. Loyal tapi mau ngertiin prinsipku yang ga mau dibayarin makan/jalan. Sangat family man. Jago-banget-masak. Dan banyak lagi yang bikin saya jatuh cinta dengan rasional.

(of course) He is not a perfect-man. Tapi justru dengan imperfection-nya itu, saya makin takluk. Karena saya percaya dan udah ngeliat dia bakal bener-bener berusaha buat jadi lebih baik.

Happiness often sneaks in through a door you didn’t know you left open – John Barrymore.

Saya belum tau, semesta menakdirkan kami menjadi the one satu sama lain atau tidak. Yang saya tau: saya bahagia, bersyukur, & antusias dengan hubungan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s