Entah.

Pernah merasakan hampa & kehilangan semangat melakukan apapun? Sejak 3 atau 4 bulan lalu, saya mengalaminya.

Berawal dari kekecewaan & penggugatan atas pilihan seseorang yang (sangat) dekat denganku – karena dia mengimplementasikan tuntutan agama yang jarang dijalankan orang lain -, saya jadi menggugat agama saya. Iya. Agama. Segala pembelajaran yang kukunyah pelan-pelan sejak mulai belajar agama ini seolah lenyap, langsung berubah jadi sebel, marah, marah, dan marah. Dari pada makin memperburuk hati, akhirnya saya memilih tidak peduli dan menjauh. Menjauh dari seseorang itu, sekaligus menjadi jauh dari agama saya. Menjauh dari agama itu sesuatu yang bodoh memang, tetapi … saya butuh sesuatu untuk dipersalahkan.

I deserve a bad judgement.

Getaran di gerakan ibadah tidak lagi bisa kurasakan. Saya sudah lupa ketenangan dan kesucian dari pemenuhan wudhu. Bahkan arti hafalan sholat sudah hampir tak pernah dibatinkan – sekarang sholat saya seolah hanya ritual berdiri bungkuk sujud duduk dengan bacaan asing yang reflek diucap. Tanpa dipikir. Apalagi direnungkan.

Menjauh dari agama, menjadikanku menjauh dari segalanya. Menjauh dari ketenangan batin. Menjauh dari kemauan untuk belajar dan selalu memperbaiki diri. Menjauh dari pelaksanaan amanah yang dulu sekecil apapun segalu diusahain untuk ditepati (karena saya dulu sangat takut jika amanah itu ditagih di akhirat).

Semua itu membuatku jadi orang yang jauh dari sosok idamanku sendiri. Amanah yang sedang dijalani memang tetap dijalankan tetapi dengan alasan yang “manusiawi” : saya tidak berada di posisi yang bisa mundur. Saya akhirnya menjalani politis praktis, yang mementingkan ego dan hal-hal pendek akal lain. Hal-hal ‘kecil’ seperti “nanti ingetin itu” “nanti dicek” dengan gampang saya lupakan; padahal sekecil-kecilnya amanah seharusnya tetap bernama amanah.

Saya kehilangan tujuan untuk melakukan apapun. Jiwa dan semangat berkemahasiswaan padam pelan-pelan karena di dasar hati terasa merasa malu dengan diri sendiri yang seperti ini. Cita-cita untuk 30-40 tahun mendatang-pun saya timbang ulang, karena tidak merasa cukup yakin mampu menjalani amanah itu : wong di amanah legislatif kampus saja berpikir ego dan sempit, gimana di amanah yang lebih besar? Padahal, saya sudah berniat meneruskan pendidikan pascasarjana yang sejalan dengan cita-cita jangka panjang itu.

Apa yang sekarang saya inginkan? Entah.

Trigger di paragraf awal cerita ini bukanlah hal yang bisa kuubah.

Kita memang selalu punya kewenangan untuk memilih. Saya-pun sebenarnya tau pilihan mana yang bijak untuk dipilih.

Tapi : Entahlah. I (still) need time.

One response to “Entah.

  1. kadang-kadang sesuatu yang kita tau sudah benar belum tentu pas, dan juga sebaliknya.ya hanya kadang-kadang, jawaban akan bergulir seiring berjalannya waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s