DAT 2012 (Day 3) : ITB & Rekayasa Sosial


Moderator : Mukti (Menteri APK Kabinet KM ITB 2010/11)
Pembicara : Tizar Bijaksana (Presiden KM ITB 2010/11)

Himpunanku himpunanku, ga ada urusan sama himpunanmu apalagi KM – Familiar ya sama kata2 semacem ini? :’)

Saya setuju dengan arogansi himpunan, bahkan kekurangan yang saya rasa di himpunan saya itu kurangnya kebanggaan terhadap identitas. Tapi yang saya kritisi adalah secara umum adalah, lembaga2 ITB masih rendah kemauan untuk kolaborasi dengan lembaga lain untuk memajukan ITB. Untuk kepentingan rakyat.
Bahkan miris banget ngebaca di salah satu LPJ Pengabdian Masyarakat Lembaga A, salah satu kendalanya ‘Lembaga B ga mau berkolaborasi’. Padahal ini Pengabdian Masyarakat, yang tujuannya bener2 memberi karya nyata buat rakyat. Setuju ga kalo esesensi hidup baru kerasa saat kita melepas egoisme diri buat ngebantu orang? :_(

Semangat SATU ITB. Dari diskusi panel yang dipandu Yorga MTI 2009, para penerus lembaga di sini sebenernya sama2 tau masalah yang terjadi di ITB itu kurangnya semangat SATU ITB. Tau, kita semua tau. Tapi ga banyak yang bener2 bertindak buat ngubah itu.
Kita sama2 tau beberapa kaderisasi daerah (osjur/kadwil) terlalu kental dengan kebanggaan lembaga, bikin alam bawah sadar nganggep lembaga kitalah yang paling oke. Kita sama2 tau beban akademis ITB itu bikin stress, bikin ga pengen ngurusin hal lain selain ngeliat IP bagus. Kita sama2 tau posisi KM ITB bukan hal yang jadi prioritas di kehidupan kampus. Kita sama2 tau sekarang ITB menghadapi isu multikampus yang bakal nimbulin perubahan2 di acara kampus. Kita sama2 tau. Tapi, kita mau berbuat apa? Emang kita bisa berbuat sesuatu?

BANYAK.

Sadar kan kita yang taun depan bakal megang lembaga masing2? Sadar kan taun depannya lagi, salah satu dari kita yang bakal jadi pemimpin KM ITB? Sadar kan kita yang bakal jadi role model buat lingkungan masing2 : mau nyebarin hawa arogansi negatif ato semangat ngebangun Indonesia.
Di akhir sesi diskusi panel, kita ngasih kesimpulan yang bisa kita perbuat terhadap kondisi ini. Dari semua kesimpulan panjang-berbobot-bersampel, justru kesimpulan yang paling ngena & paling simple dari Sum IMMG 10. ‘Solusinya cuma satu : kita semua

Moderator : Angga Kusuma Qadafi (Menteri SosPol Kabinet KM ITB 2010/11)
Pembicara : Deni Priyatno (Direktur ProAktif Indonesia)

Pernah wondering ga sekarang kita gampang banget disetir? :) Sering kita beli barang A dengan harga mahal padahal ada barang B yang lebih murah & lebih bagus. Kalo mau menilik lebih lanjut, menarik bgt upaya di balik proses menyetir kebutuhan/pikiran orang banyak ini. Ato bahasa kerennya proses Rekayasa Sosial.
Ga perlu dibahas sebagai kajian berat, yuk cek sekeliling kita. Mungkin yang well-knowed : produk Apple. Selama jadi CEO Apple, (Alm) Steve Job nerapin semua ilmu Rekayasa Sosial dalam masarin produknya. Beliau punya ide inovative hebat, beliau punya nama besar Apple untuk menjual produknya dengan harga tinggi, beliau berhasil membuat mindset Apple menjadi produk gaya hidup.
Secara gamblangnya, rekayasa sosial adalah usaha untuk mengubah/mempengaruhi kondisi sosial. Contoh nyatanya ada di sekeliling kita. Dalam buku Tipping Point, Malcolm Gladwell memaparkan fakta & telaah ilmiah dari banyak kejadian yang mengubah dunia. Kemenangan Perang Dunia, keberhasilan penjualan produk, bahkan hal personal kayak sukses dapet pekerjaan.
Depend on objek & situasi, strategi mengubah ini bisa lewat fasilitatif, re-edukatif, persuasif, kekuasaan, atau kekerasan. Kita semua punya pemikiran & ide buat lingkungan kita kan? Tapi, ga semua orang bisa sukses ngebawa massa ke arah pemikiran kita 0:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s