DAT (DAY 2) : Mahasiswa

Moderator          : Abram Christopher (Menteri KaStrat Kabinet KM ITB 10/11)

Pembicara           : Syahganda (Geodesi 84) & Indra Kusuma (Presiden Unpad 03)

Tahun 70? Zaman itu urusannya apa sapa gue? — Malu sih, tapi itu pikiranku sebelumnya.

Dari dulu, sejarah bukan merupakan pelajaran favoritku. Rasanya males banget nginget2 siapa gimana kapan kejadian2 dulu (“ga kenal sama orang2nya, dah berlalu lagi”). Tapi ternyata, itu pikiran konyol. Kita belajar dari hal2 yang kita alami, tapi karena hidup kita ga cukup lama, kita belajar dari hal yang dialami orang lain. Dari sejarah.

Tempo hari, saya pernah membuat semacem ringkasan keberjalanan kemahasiswaan ITB dari masa ke masa (http://www.scribd.com/doc/79043951/Essay-Kemahasiswaan-ITB-Esok). Waktu SMP, saya butuh nilai Sejarah sehingga mengharuskan mengenal peristiwa Rengasdengklok dan Sumpah Pemuda. Dari situ, kita bisa sama2 liat mahasiswa memegang peranan sangat vital dalam sejarah bangsa Indonesia. Tanpa pemuda, Indonesia bisa jadi belom bisa mengibarkan bendera Merah Putih tanpa khawatir kepala terpenggal.

Sejarah yang medewasakan, tapi Sejarah pula yang memanipulasi. Kalo ujian ada pertanyaan ‘Organisasi apa yang pertama terbentuk di Indonesia?’, kita jawab ‘Budi Utomo’. Padahal kalo kita runut faktanya, Budi Utomo didirikan 20 Mei 1908 (Hari Kebangkitan Nasional) and.. di tahun 1905 berdiri Serikat Dagang Indonesia (SDI). Nahlo! Duluan SDI dong? Yap. Tapi kenapa Budi Utomo yang disebut organisasi pertama? Karena, SDI dianggap Belanda sebagai organisasi yang berbahaya, mereka melakukan perlawanan ekonomi. Budi Utomo lebih pro Belanda sehingga Belanda menonjolkan organisasi ini  (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100318072130AAI6Hh9)

Mari cari fakta lain. Kenapa di lagu2 nasional, syairnya ‘Ibu Kita Kartini putri sejati’.. bukan ‘Ibu Kita Cut Nyak Dien’ atau ‘Ibu Kita Dewi Sartika’. Padahal dengan segala hormat, RA Kartini hanya berkirim surat kepada koleganya. Sedangkan Cut Nyak Dien & Dewi Sartika turun langsung ke medan perang untuk membela Indonesia. Tapi kenapa lebih menonjol RA Kartini? Karena… Belanda tak ingin memberi kesan bahwa perlawanan pada jaman dulu itu heroik. Belanda ingin memberi kesan perjuangan rakyat di bawah penjajahannya adalah perjuangan intelektual. Sejarah yang dimanipulasi

Di sini, peran mahasiswa sangat diperlukan. Kita sebagai kaum (yang mengaku) intelektual harus lebih kritis mencari fakta sejarah. Kita sebagai kaum (yang di ITB) disubsidi pajak rakyat sebesar Rp 30 juta/tahun harus memegang idealisme agar tak mudah dimanipulasi. Idealisme yang bisa dipertahankan jika kita sudah yakin dengan dasar idealisme kita, jika kita bertindak sesuai idealisme itu, dan kita mempunyai lingkungan yang mendukung idealisme itu. Idealisme kita, calon penerus bangsa <:)


Moderator          : Adam Pangeran (Kahim HMP 2010/11)

Pembicara           : Muhammad Iqbal (Geologi 96, Senator 3x, Ketua DAT 1)

Kenapa sih kita harus peduli sama rakyat? Selama kita hidup enak, selama IPK kita cukup buat ngejamin massa depan, kenapa kita harus peduli sama orang yang ga dikenal?

Serius, ini pikiran rendah. Tapi saya yakin dimiliki sama hampir semua mahasiswa (termasuk saya). Beban kuliah di ITB memang tinggi, apalagi di IF yang katanya beban kuliahnya terberat kedua di ITB. Mikirin tubes aja udah stress, kenapa perlu repot2 mikirin rakyat ya?

Boleh mikir kayak gitu, boleh banget. Asal kita di sini ga dibayarin sama rakyat. Berapa uang SPP kita sesemester? 5 juta? Mahal ya. Padahal biaya yang dibutuhin sesemester 20 juta. Terus sisa 15 jutanya dari mana? Dari pajak Pak Pak tukang sampah beli beras. Dari pajak Ibu Penjual Sayur beli sabun mandi. Dari rakyat, yang untuk makan diri sendiripun belom bisa.

Boleh mikir kayak gitu, boleh banget. Asal kita tega ngeliat kenyataan rakyat kelaparan keterbelakangan di sekitar kita. Asal kita ga cukup terhenyak dengan angka2 kemiskinan, kematian, pengangguran di sekitar kita.

Merasa tergugah tapi ga tau apa yang bisa dilakuin oleh kita mahasiswa? So do I. Saya ga tau harus & bisa berbuat apa buat buat rakyat. Kenyamanan yang kebetulan saya rasain selama ini bikin sense of prihatin saya masih rendah.

Tapi semakin saya tau realita yang terjadi di masyarakat, keadaan-keadaan yang sebenernya bisa diperbaiki, semakin saya merasa dibutuhkan. Semakin saya mau ga mau cinta sama rakyat, sama Indonesia kita. Semakin merasa pendidikan yang saya tempuh sekarang, pada saatnya harus kembali untuk rakyat.

Pembicara           : Ridwansyah Yusuf (Presiden KM ITB 2005)

Moderator          : Anjar Dimara Sakti (Menteri Keprofesian & Inovasi Kabinet KM ITB 2010/11)

Mau bikin Comserv, tapi kok cuma bisa bagi2 Indomie doang. Mau konsen di keprofesian tapi kok kalah karyanya sama anak SMK. Mau demo kok capek

Merasa ga, kita ini mahasiswa galau? Terlalu nyaman dengan status merdeka, dengan uang orang tua tiap bulan, dengan kebijakan pemerintah yang ga berpengaruh nyata ke kita (“cabe naik? No problemo. Emak masih mampu beli kok yiey”)

Dulu, mahasiswa masih punya momentum untuk bertindak. Dulu mahasiswa bisa berjuang ngegulingin presiden. Dulu mahasiswa bisa nyulik orang buat ngumandangin kemerdekaan. Dulu, Mahasiswa bisa ini itu. Sekarang mahasiswa bisa apa? Banyak.

Mari contek catetan kita, apa aja potensi mahasiswa & ga dimiliki pihak lain? Mahasiswa punya link jaringan. Mahasiswa punya semangat idealisme yang belum terkikis sama pengaruh ekonomi politik. Mahasiswa masih relatif dipercaya masyarakat dibanding pihak penguasa. Mahasiswa bisa menggalang kekuatan dana untuk berbuat. Mahasiswa masih punya waktu untuk memikirkan kepentingan rakyat dibanding mereka yang sudah memiliki kejaran finansial.

Yakin, semua ini pembahasan klise yang kita semua udah tau. Tapi makin hari makin tau kehidupan, makin saya menyadari terlalu sia-sia kalo nyia2in fase mahasiswa ini. Sebelum tau nikmatnya ngehasilin uang untuk kepentingan pribadi, sebelum tau asiknya mengejar karir, saya yakin idealisme yang sekarang lagi membumbung ini harus dipertahanin.

Pembicara           : Fikri (Ketua Kongres 09/10)

Moderator          : (Senator HMP 10/11)

Cita-cita pendidikan dalam skala makro adalah untuk meningkatkan budaya/kesejahteraan hidup, dan dalam skala mikro untuk mencapai kesadaran berpikir individu. Dan mengutip Bapak Kemerdekaan kita Moh Hatta, tujuan pendidikan adalah untuk ‘Memanusiakan Manusia’

Konsep banget ya? Ternyata ega juga. Saya pribadi setuju banget dengan tujuan pendidikan ala Bung Hatta itu. Pendidikan akademik bagi saya bertujuan membentuk pola pikir, dan pendidikan non akademik jelas buat membentuk softskill (y) :)

Di ITB, pendidikan akademik & non akademik berkolaborasi membentuk kita mahasiswan mempunyai hardskil & softskill yang mumpuni. Semua itu tertuang di Rancangan Umum Kaderisasi KM ITB yang memakan waktu 2 taun untuk dirumuskan! :0

Ijin meringkas dari RUK (http://www.mediafire.com/?83x2yt1jkj14b1k). Saat Tingkat 1, kita mengalami proses pembentukan menjadi mahasiswa yang memahami tujuan pendidikan, visi hidup yang berdasarkan KeTuhanan, memikili kebebasan substansial (ga ngrugiin orang lain), mengenal budaya kampus, & mulai siap2 masuk himpunan. Semua ini jadi tujuan OSKM & Kadwil (PLO) yang kita lalui.

Di Tingkat 2, kita mulai masuk himpunan. Dengan Osjur (SPARTA), kita dibentuk biar ngenal himpunan kita HMIF, jadi role model buat adek2 TPB, punya sense of crisis, & belajar budaya apresiasi. Di Tingkat 3, saatnya kita mulai megang lembaga sebagai Badan Pengurus. Sebagai pemegang lembaga, kita bertanggung jawab terhadap keberjalanan lembaga kita, dan juga makin tau potensi yang dimiliki kampus kita

Kata orang, masa mahasiswa itu masa paling asik (walo mungkin sekarang kita pengen cepet lulus ;p). Kalo udah tiba saatnya, di Tingkat 4, mari kita nikmati waktu terakhir di kampus! Sebagai tingkat tertinggi di kampus, kita punya kewenangan sebagai penjaga nilai, memastikan keberjalanan RUK, dan bersiap terjun langsung sebagai calon anggota masyarakat begitu lulus

Udah ngrasa semua pendidikan kita (akademik & non akademik) sejauh ini berhasil ngebawa kita melewati Profil Tingkat 1? :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s