DAT 2012 (Day 1) : Indonesiaku

“DAT 2012! Buah gagasan, Ragam Gerakan, dalam Semangat SATU ITB

16 – 19 Januari 2012, saya dan temen2 Alhamdulillah berkesempatan mencicipi pembelajaran di Wisma Ciburial Unisba dalam acara Diklat Aktivis Terpusat. Keren ya namanya, “aktivis” hehe. But trust me, kita yang kebetulan di sini bukan orang paling aktif, bukan orang paling eksis di lembaga masing2. Kita cuma orang2 cukup beruntung yang kali ini diberi kesempatan sama lembaga masing – masing buat belajar di kegiatan ini, buat kemudian beramanah nyebarin ilmu yang didapet. Sebaik2nya manusia yang bisa berguna buat sekeliling kan :)

Di sini, saya diberi amanah oleh Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB. Dari HMIF ada Hanif Gilang Ucup Ikhwan Didi Danny SonnyTheo Tikka Rien Firdaus Fakhri dan saya sendiri. Kebetulan, di sini Gilang & Rien sebagai wakil dari unit Amateur Radio Club (ARC), SonnyTheo dari unit UKSU, Firdaus dari Kabinet PSDM, Fakhri dari unit UKMR. Tapi sayang sekali, Hanif di saat terakhir berhalangan ikut karena ada amanah ketua acara di Purwakarta, dan Tikka juga berhalangan. Jadi kami 11 orang bergabung dengan 190 temen2 dari Himpunan2, Unit, dan Lembaga ITB di pembelajaran 4 hari 3 malam. Pembalajaran yang bener2 bikin pengen ngelakuin banyak hal untuk Indonesia, karna ternyata saya memalukan belom berbuat apapun untuk negeri ini & banyak banget yang belom kutau tentang negaraku sendiri yang butuh diperbaiki oleh kita :’)

Moderator     : Laksito Hendri (Menteri Hublu Kabinet KM ITB 2010/11)

Pembicara  : Ramadhani Prayama (Menteri Koordinator Kebijakan Publik Kabinet KM ITB 2010/11)

 “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” – Pasal 33 Point 3 UUD ‘45

Kemiskinan di Indonesia menurun 1 juta orang dari 2010 – 2011 dari 31juta ke 30 juta (data BPS). Dengan segala hormat atas kerja keras pemerintah, ini belom merupakan hal yang bisa dibanggakan. Kenapa? Mari cek fakta ini. Angka pertambahan penduduk Indonesia 4 juta orang/tahun. Dan indikator batas miskin yang dipakai oleh BPS adalah berpenghasilan Rp 211.000/bulan, sedangkan indikator sangat miskin dari Bank Dunia adalah Rp 255.000/bulan. Hmmm terlihat kecil ya perbedaan indikator Rp 44ribu itu, but surprisingly… jumlah itu menentukan batas hidup mati banyak banget rakyat Indonesia :[

Ini miris. Padahal Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, hingga selama beratus-ratus tahun Belanda, Jepang, Inggris saling berebut kepemilikan akan negara kita dengan mengorbankan tentara & uang untuk berperang sengit. Sekarang setelah merdeka, terlalu banyak kepentingan pihak berkuasa terhadap SDA yang menyangkut harkat hidup rakyat. Indonesia adalah negara yang kaya, hanya 43 % anak usia SMA yang bisa sekolah, hanya 13% anak usia kuliah yang bisa melanjutkan kuliah. Indonesia adalah negara yang kaya, banyak rakyat yang mati kelaparan di penjuru negeri.

Pemerintah, sebagai pihak eksekutif yang beramanah memimpin negari, belum menunjukkan kinerja terbaiknya. Sistem birokrasi masih dipenuhi keadaan KKN, banyak lembaga yang boros. Dengan sistem pemilihan langsung sekarang, sebagian yang memenangkan kursi legislatif adalah beliau2 yang punya modal kampanye buat dikenal rakyat.

Keadaan ini diperparah dengan intervensi pihak asing di kepentingan Indonesia. IMF dulu terlihat seperti malaikat penolong memberi uang banyak di waktu krisis Orde Baru Pak Harto, tapi makin ke sini, IMF justru mengambil keuntungan dari bunga pengembalian utang itu (http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2009/06/29/imf-meraup-keuntungan-ditengah-krisis-global/). Indonesia belum berani keluar dari keanggotaan IMF, yang dapat berakibat embargo ekomoni seperti di Iran ataupun seperti Hugos Chaves Presiden Venezuela yang diadili pengadilan internasional karena mengusir perusahaan2 asing.

 

 

Moderator  : Isan (Arsitektur ITB 2007)

Pembicara  : Pak Iwan Hermawan (Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia)

“Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)…”– UU no. 20 tahun 2003 pasal 49 (1)

Berdasar Undang-Undang Pendidikan, masalah utama pendidikan Indonesia adalah infranstruktur, guru, sistem pendidikan, dan tujuan pendidikan. Point pertama, adalah point yang ironis. Karena berdasar UU, alokasi dana untuk pendidikan adalah 20% yang +- bernilai Rp248.978,5 miliar. Tapi ternyata, nominal tersebut masih digunakan untuk hal – hal seperti tunjangan pengajar, biaya pendidikan kedinasan, maupun UKM (http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/16/anggaran-pendidikan-20-untuk-siapa/)

Masalah lain dalam pendidikan ini, sistem bangsa kita cenderung hanya menilai faktor kognitif (kecerdasan) peserta didik tanpa melihat aspek penting lain seperti afektif (emosi) dan psikomotorik :( Padahal ini definisi pendidikan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.Yang berarti peserta didik berhak mendapat apresiasi atas segala potensi dirinya tanpa terbatas kurikulum sekolah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s