18 → 19

Kesempatan menjadi dewasa, datang di waktu yang sebenernya ga diharapin

Persis di hari terakhir usia 18 tahun, aku harus move on dari orang yang bener2 pengen aku tunggu selama 1-2 tahun ke depan. The same man yang sering kumention di postingan blog ini. The same man yang bikin aku memilih single di berbagai kesempatan. The same man yang dengan malu udah kubayangin gonna be a good child’s-father

Dan untuk subjek & waktu yg sama, aku harus kehilangan  kepercayaan terhadap orang2 yang kuanggep sahabat di sini

Ngabaiin semua pikiran mateng, aku ga pernah bayangin bakal nangis ga merhatiin tempat. Perasaan down, amarah, hilang kepercayaan diri bener2 bersaing dengan usahaku untuk tenang & mencoba bersikap dewasa. Detik memiliki angka 19, kujadiin ajang memohon ke Sang Maha Pemberi Ketabahan. Memohon kado ketenangan dari Yang Maha Pemurah

And.. at this point, aku bener2 ngerasa Allah Maha Segalanya. Dia bener2 memberi waktu & kesempatan buatku nenangin diri. Dia bener2 memberi temen2 luar biasa yang perhatian & maklum aku ga cerita banyak. Dia bener2 memberi moment buat ketawa lepas. Di akhir 4 kejutan luar biasa tanggal 20 April, aku akhirnya dikasih pemahaman kalo im not alone.

Dan sekaligus, aku sadar bahwa ekspektasi orang2 ke aku sangat-terlalu-bagus. Ekspektasi yang bikin malu karna aku sama sekali ga ngrasa sebagus itu…

Aku belom merasa dewasa. Aku cuma udah terlalu lama bersikap childish & pengen ngerasain gimana rasanya mencoba dewasa

Aku belom merasa bijak. Aku cuma udah terlalu lama keras kepala dan egois, dan pengen mencoba ngeliat view of point orang lain

Aku belom merasa dedikatif. Aku belom merasa ga bedain orang. Di balik semua ekspektasi yang kurasa terlalu tinggi, sebenernya ada alasan yang lebih rendah. Tapi justru, ekspektasi itu yang akhirnya bikin aku kuat. Akhirnya, aku mau berusaha tenang & ngenali diri sendiri : apa yang sebenernya kupengenin?

Nyimpen amarah ke orang? Jelas sama sekali ga nenangin batin. Ini sama sekali ga gampang, semakin dipikir semakin memperbusuk hati. Tapi, disinilah kedewasaan dituntut buat ada. Jangan selalu nempatin diri sebagai pihak korban. Intropeksi, rendahkan hati, yakini kalo selama ini aku punya kesalahan ke mereka. Dan setelah tenang, beri penghargaan ke diri sendiri untuk memaafkan.

Untuk move on, tanya ke diri sendiri : apa sebenernya yang selama ini bikin enggan move on? Ternyata jawabannya : selama ini aku dilingkupi rasa bersalah. Dimulai 19 September 2007, selama pacaran aku belom pernah bersikap layaknya pacar yang baik. Dan dengan penuh kesombongan, sekarang aku merasa udah cukup bisa jadi pacar yang lebih baik. Alasan ini yang bikin aku nunggu kesempatan untuk memperbaiki penilaianku dimata dia. Ini, sama sekali bukan alasan yang cukup dewasa

Untuk move on, tanya ke diri sendiri : apa bener dia yang kamu tunggu? Setelah sekian lama tanpa komunikasi, aku hampir ga ngenali siapa orang yang ngomong di depanku kemaren. Selama ini, ternyata, aku nunggu TER yang dalam imaginasiku. Sama sekali bukan untuk menekankan bahwa dia jelek. Believe me, he‘s great. Tapi tersadar bahwa aku terjebak dalam imaginasiku sendiri ternyata alasan yang paling bikin lega. Paling bikin merasa, kali ini aku bisa move on

Syafira Fitri Auliya,

Mengenal diri sendiri, kado paling berharga dari Allah.

One response to “18 → 19

  1. Pingback: Time Moves – Menikmati Hidup | phy`s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s