Menuju & ⅓ Edinburgh

Tanpa terasa, ini udah bulan keempat saya di Edinburgh. Time flies, tapi dengan super berkesan. Menyenangkan? Pasti. Walau tentu ga semua yang saya alami adalah cerita bahagia, but yah.. it is what it is :)

Dan berhubung perjalanan menuju dan selama di Edinburgh (les dan test IELTS, pendaftaran universitas, pengurusan visa, biaya hidup, pengalaman perkuliahan etc yang garis besarnya pernah saya ceritain di berkuliah.com) mungkin akan bermanfaat untuk dirangkum, saya juga akan coba tuliskan dengan lebih rinci di sini. Enjoy.

IELTS

Seperti yang saya ceritain ke Obstet di berkuliah.com, saya melalui empat kali test IELTS dan mengikuti empat les bahasa. Dengan persiapan yang tidak jauh-jauh hari, saya rasa semua yang dikasih Allah udah more than I deserve. Meski demikian, ada beberapa hal yang setelah dijalani “I wish that I knew it before” “kayaknya kalo tau sebelumnya, bisa hemat waktu dan uang lumayan” sehingga walau banyaaak yang jauh lebih tinggi perjuangannya dibandingin saya, mungkin perjalanan ini worth telling.

Karena sejak kecil saya trauma dan takut dengan bahasa Inggris sehingga perlu mengejar banyak ketertinggalan dengan mengikuti beberapa les:

  • Privat TOEFL ITP. Miss Anik dari Quali Internasional paling berjasa menjadikan bahasa Inggris saya yang sebelumnya separah “I am is Fira” menjadi score  ITP yang bisa mendaftar LPDP. Selama delapan hari, beliau dengan sabar ngajarin saya dari sedasar-dasarnya.
  • The British Council (TBI) Bandung, kelas IELTS. Simulasi pertama, overall saya 3.5. Iya. 3.5. Dari max 9.0. Nilai listening yang paling parah secara saya kebiasa dengerin orang masuk telinga kanan keluar telinga kiri wehehe. Setelah instropeksi dan sering belajar bareng temen-temen sekelas (hai Okta, Rida, Ayuti, Bobby, Jes, Amel), di simulasi terakhir overall kami semua naik lumayan sehingga saya daftar test IELTS untuk 3 bulan setelah kelas berakhir.

Tapi, menjelang test itu, saya mendapat amanah menjadi ketua pra-Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP yang saya pikir “bisa nih disambi belajar dan kerja” padahal “ga sanggup seminggu 2-5x PP. Maaf Kak Emil Kak Iqbal Aris, saya resign” dan udah ga punya energi untuk belajar sama sekali.

Result: Mungkin justru karena tanpa pressure dan pikiran lebih banyak memikirkan PK sehingga rileks, score yang saya dapat overall 7.0 (Reading 9.0, Speaking Listening Writing 6.0). Tbh: kalau temen-temen PK-ku ditanya tentimoni tentang kepemimpinanku, saya yakin akan ada kekurangan terucap. Karena tau bahwa beberapa tindakan seharusnya kusikapi dengan berbeda, saya-pun butuh waktu cukup lama untuk menerima bahwa masa PK adalah limitku sebelum pikiran jernih dan pengendalian diri melonggar. Pembelajaran berharga, no regret :)

  • Real English Yogya, General English. Sejak Januari 2016, saya diperintah orang tua untuk berdiam di Yogya agar bisa konsen persiapan IELTS dan pencarian universitas. Dengan nilai IELTS pertama yang melebihi dugaan, saya juga jadi lebih ambisius dan naikin target. Berhubung ngerasa paling parah di speaking, saya daftar Real English kelas general english. Kenapa Real English? Simply karena fasilitasnya jauh lebih bagus dari English First dengan harga yang mirip. Kantinnya juga nyaman semi-gratis (setiap daftar level baru, 10% dari uang pendaftarannya jadi voucher kantin).
img_1937

Perpustakaan Real English

Saya menyelesaikan 3 level di sini. Metode pembelajarannya normal tapi cukup untuk membiasakan diskusi bahasa Inggris. Bahkan di pertemuan saat saya sendirian yang hadir, pengajar native-nya khusus (berusaha) memperbaiki pronontiation saya yang parah.

Result: Sebulan setelah mulai les di Real English, saya ujian IELTS lagi. Hasilnya naik: overall 7.0 (Reading 9.0, Listening 6.5, Speaking Writing 6.0).

Meski demikian, saya gatel karena hasil ujian di IDP Yogya speaking dan writingnya ga naik-naik (padahal butuh writing 6.5 buat Manchester) sehingga termakan testimoni kanan kiri yang bilang “nilai di British C*uncil Surabaya dan Bandung lebih baik hati banget” “temenku ada yang speaking dan writing naik 1 band di sana.” Gimana ga tertarik? Tengah Maret, saya ke Bandung. Nginep 2 malem karena test di BC Bandung kalau tidak beruntung (nama di abjad akhir-akhir) bisa dapet jatah speaking di hari selanjutnya

Result: Saya ngerasa ini speaking dan writingnya terbaik yang saya pernah jalani. Speaking penuh canda, rileks, dan semua pertanyaan terjawab. Waktu untuk writing lebih dari cukup. Tapi ternyata hasilnya malah turun: overall 6.5 (Reading 8.5, Listening 6.5, Speaking 6.0, Writing 5.5). *Jadi: ga perlu percaya kalau BC Bandung lebih baik hati ngasih nilai writing-speaking*

  • Privat Academic Writing. Kaget writing jadi 5.5, akhirnya kami menghubungi lagi Quali Internasional untuk membantu privat academic writing IELTS. Saya diajar oleh Mbak Achie, pemilik lembaga les-nya yang ber-writing 8.0. Setiap hari saya diminta setor tulisan untuk kemudian beliau komentari dan perdalam grammarnya. Walau karena beliau sibuk di akhir-akhir gurunya diganti jadi orang lain, konsultasi kami tetap jalan via email dan telpon. Saya juga belajar sendiri dengan intensif dan sering jadi orang terakhir di perpus Real English untuk belajar writing.

Result: Pengajar di Real English maupun Mbak Achie yakin saya bisa melampaui score yang saya inginkan. Apalagi merasa sebagai “veteran” di test IDP Yogya, saya udah sama sekali ga deg-deg-an saat test. Tapi ternyata: makin turun. Overall 6.5 (Reading 7.5, Listening 6.5, Speaking 6.0, Writing 5.5).

Walau segala pengeluaran ini adalah satu-satunya investasi yang perlu kami keluarkan untuk mendapat gelar master, tapi keluarga saya ga sedemikian berlebihannya sampai sangat enteng menyiakan berjuta-juta rupiah. *sebagian les dan test saya bayar sendiri tapi lebih sering Bapak yang langsung bayar*. Sehingga waktu Bapak menawarkan untuk test sekali lagi, karena usaha udah semaksimal yang saya bisa dan kurvanya justru menurun, saya sadar bahwa mungkin memang ini bukan jalan saya dan ini saatnya saya belajar untuk tau kapan harus berhenti.

Untuk temen-temen yang sedang mempersiapkan IELTS, ini saran saya: (1) reading usahain selesai 30 menit sebelum waktu habis buat ngebaca lagi semua bacaan dari awal, (2) listening selesaiin semua latihan di youtube dan streaming-in BBC, (3) speaking ga perlu maksain memakai kata-kata yang ga familiar daripada kelamaan mikir dan bikin jadi makin gugup/ga natural, (4) writing, saya overthinking. Padahal sama seperti speaking, gunakan aja kata dan susunan kata simple yang kita familiar. Ga perlu juga membahas terlalu “dalam” karena yang dinilai tata bahasa bukan pemahaman kita. Selalu juga jelasin dan sokong setiap argumen yang kita kasih. So… good luck! Seperti yang saya state di berkuliah.com, meskipun saya ga berhasil, bukan berarti ikhtiar test berkali-kali itu selalu sia-sia. Semua temen seperjuangan yang test 4-5 kali berhasil kok mencapai nilai incaran. L dan T berhasil naikin speaking dan writing 6.5 dari 6.0 dengan 4 usaha. Bahkan R berhasil naikin writing dari 4.5 jadi 8.0 dan speaking 5.0 jadi 7.0 dengan 5 percobaan. Don’t worry; rezeki ga akan tertukar :)

UNIVERSITIES ENROLLMENT

Dari googling dan minta pendapat ke banyak orang, saya menemukan tiga universitas yang memenuhi kebutuhan: University of Manchester (ICTs for Development), University of Edinburgh (Science and Technology in Society), dan University of Southamton (Science and Technology in Society).

  • University of Manchester. Tujuan utama karena jurusan ICTs for Development baru ada di Manchester dan (saat itu) development study mereka ada di ranking 3 dunia. Ranking dunia, Manchester di urutan 33. Jurusan tersebut minta IELTS overall 6.5 dengan Writing 6.5. I wish that I knew before: Dosen saya mengatakan bahwa dosen ITB tidak bisa memakai kop surat sehingga saya kirim referee dari beliau tanpa kop. Ternyata, referee tersebut ditolak oleh Manchester. Akhirnya setelah hubungin sana sini selama empat bulan, saya bisa mensubmit referee berkop dan 3-4 hari setelahnya menerima conditional offer (kurang writing IELTS).
  • University of Edinburgh. Sejujurnya, saya sama sekali belom pernah denger ada universitas bernama Edinburgh ahaha. Bahkan bukan ranking mereka (ke-17 dunia) yang bikin saya mulai tertarik dan menelaah tapi karena.. Sir Conan Arthur Doyle dan J.K. Rowling alumni UoE!! :D Mereka minta IELTS overall 7.0 without any band below 6.0. Decision mereka lama, mungkin karena lagi peak session. Submit tengah Februari, mereka ga ngasih kabar sampai saya telponin dan tanyakan via email tanggal 14 Maret. Akhirnya 3-4 hari setelahnya mereka mengeluarkan unconditional offer.
  • Universiy of Southampton. Requirement jurusan mereka: GPA min. 2.8, IELTS min. 6.5, dan ga mempermasalahkan referee letter tanpa kop surat yang kusubmit. Decision mereka juga super cepet: submit Jum’at, decision Selasa. Mereka memberi saya diskon tuition fee 5.000 GBP.

Dalam penentuan universitas, ranking dunia (walaupun penting) bukanlah prioritas utama. Menurut saya lebih penting untuk merhatiin kualitas jurusannya, seberapa inline ilmu-nya dengan tujuan masa depan, dan konduktifitas kota mereka. Universitas yang rankingnya lebih bawah juga bukan berarti pasti lebih inferior; contohnya Cranfield yang ranking dunianya ga mencolok tapi jurusan-jurusannya nomer satu atau satu-satunya di dunia. Postgrad di luar negeri-pun bukan jaminan lebih pinter dari yang postgrad di Indonesia: banyak temen yang brilian memilih untuk berkuliah di Indonesia karena pertimbangan keluarga, waktu, sampai pekerjaan. Everyone has their own priorities and circumtances ;)

VISA
Berbekal tulisan di sini, saya mencoba mengurus visa sendiri demi punya bekal pengalaman untuk anak sekolah di luar *iya emang overthinker*. Ternyata sama sekali ga ribet. Pendaftaran visa UK bisa dilakuin di Jakarta (Kuningan), Bali (+ $55), dan Surabaya (+ $55, hasil dikirim ke rumah). Test TBC juga bisa di tiga kota itu. Saya pilih test TBC di Surabaya (IDR 550.000 (bisa bayar via debit)) di Premiere Surabaya. PS: pastiin kertas resultnya udah ditandatanganin sama dokter. Dokternya luput buat nanda tanganin jadi saya diminta balik ke RS-nya. Sedangkan saya apply visa di Jakarta sekalian mencari perlengkapan winter. Tips Visa: bawa bacaan buat temen nunggu karena HP dimatiin dan tas ga boleh dibawa masuk (ada tempat penitipan, berbayar). Waktu yang saya butuhin sekitar 1 jam pembuatan (tanpa wawancara karena pewawancaranya lagi berhalangan) dan 2 jam antri pengambilan.

PERLENGKAPAN

Ini tempat membeli barang-barang keperluan bertahan hidup.

  • Toko Djohan Jakarta, Mangga Dua. Walau ga ada coat-coat lucu, kaus kaki warna-warni, maupun syal warna mencolok di sini, tapi tetep perlu punya beberapa setel keperluan winter karena bulan-bulan pertama di UK, toko-toko masih menjualnya koleksi autumn. Worth buying: (a) long john (@120.000) yang cukup bisa nahan dingin walau pakai rok dan dress saat winter, (b) Syal (@75.000), (c) Kaus kaki hitam (@60.000)
  • Uniqlo Grand Indonesia. Semua Uniqlo yang Heatech worth purchasing! Saya lebih saranin beli  Uniqlo di Indonesia karena bahan T-Shirtnya (@ 149.000) lebih tebel dari Uniqlo yang saya beli di sini. Pertimbangin beli ukuran besar. Saya beli ukuran XL (ukuran normal saya M).
  • Ambarukmo Plaza, Yogya. Koper: apapun yang diskon.
  • Toko Hamzah alias Mirota Batik, Malioboro. Souvenir untuk dosen dan temen-temen. Untuk dosen saya siapin kain batik, untuk temen-temen saya kasih pembatas buku (@9.000-an). Tips: ga usah segan obrak-abrik tokonya sampai dapet pembatas buku yang tanpa cacat, hidung wayangnya ga patah, dan warnanya tidak mbleber. Yang penting rapiin sendiri setelah selesai. Saya dan Jey dari 200+ pilihan cuma dapet 24 buah yang layak
  • Stationary. Berhubung harga stationary di UK bikin nyesek, sedia stok banyak mulai dari agenda, binder, kertas binder, pulpen, pensil, stabilo, post it, hingga file map.
fullsizeoutput_b5f

Isi koper-koper saya

Saya akan sangat menyarankan untuk membawa ini: obat terutama antibiotik (di sini beli obat suuuuper ribet), tolak angin (3 packs ga cukup), counter pain (buat Euro/UK trip), nutrijell (buat potluck), pembalut (pembalut di sini *yang saya temukan* antara tipis atau susah dicuci), Sambal Bu Rudy, dan sambal terasi/pecel kalau doyan. Sedangkan Indomie dan sambal/kecap ABC ga perlu bawa banyak karena ada dan murah di toko china. Pertimbangin juga untuk vaksin measles di Indonesia dan selesaiin semua masalah gigi termasuk cabut geraham belakang.

MY FIRST FOUR MONTHS

Segala yang terjadi di empat bulan ini.. begitu mengagumkan. Mulai dari perkuliahan, diisolasi seminggu karena terkena measles, melepas orang lama, mendapat orang baru, terpaksa melepas orang baru, perjalanan agama, hingga perjalanan kepribadian yang membawa kesimpulan: saya perlu mereset banyak hal dari awal :)

fullsizeoutput_7ce

Edinburgh di dini hari

Perkuliahan

Saya selalu memberikan jawaban ini ke temen-temen yang akan melanjutkan pendidikan non-linear: 1) ya, kita akan perlu untuk mengejar perbedaan pola pikir dan basic knowledge. Tapi kita bakal bisa kok ngukur kemampuan diri dan effort macam apa yang perlu kita keluarin. Terlebih lagi, melanjutkan ke jurusan linear juga bukan berarti lebih ringan terutama anak-anak engineering yang beban kuliahnya jauh lebih berat dari saya yang fisip. Jadi, mau linear atau non-linear sama aja menurut saya bakal sama-sama perlu berjuang, 2) Ahamdulillah nilai semester 1 saya (yang seluruhnya dari essay) ga beda dan ada yang lebih bagus dari classmates yang subjeknya linear maupun native *walau masih selalu mendapat feedback kalau essay saya bahasa Inggris-nya “kacau” hehe*. Inti dari seni belajar di background beda kan: banyak baca tentang isu/kebijakan di bidang itu *dapet banyak ilmu baru itu super exciting!* dan banyak diskusi sama orang-orang di bidangnya biar tau pola pikir mereka. Semua ga mustahil buat dijalanin. Jangan ragu juga maksain diri buat ngasih pendapat di diskusi walau speaking minimum maupun critical thinking ga secanggih orang-orang. Kan di sini kita emang lagi belajar. Kalau mau lihat sekeliling, banyak yang lebih berjuang tentang nilai. Tapi kalau liat ke atas, banyak juga yang logikanya jauh lebih jalan, nulisnya lebih akademis etc. Jadi kita bakal banyak belajar untuk menerima berapa-pun nilai yang didapat sambil ga melan-in kecepetan lari 🙂 

Kehidupan

Lebih dari segalanya, saya bersyukur atas kehidupan yang saya alami di sini. Setelah melepas orang lama, pada intinya saya mengalami masalah dengan orang baru yang menjadi tendensi. Orang-orang yang mengikuti saya di media sosial pasti tau galaunya saya pada saat itu. Tantangan di organisasi mungkin bisa disikapi sebagai tanda harus ningkatin leadership, kegagalan di test artinya masih harus banyak belajar, etc. Tapi saat bermasalah di hubungan, saya merasa itu sebagai hal yang personal dan rejection seutuhnya sebagai “manusia”. Yang membuatnya menjadi lebih menyakitkan.

Banyak gugatan saya rasakan saat itu, dari “padahal saya menunjukkan sisi negatif karena percaya bahwa dia bisa menerima” sampai “kenapa Allah ga mengabulkan doa dan ikhtiar saya selama ini“. Saya jadi sangat lebih drama, lebih sering curhat di medsos berharap dia ngeliat *padahal ya kagak*, dan kehilangan sinar diri karena insecure. Sampai akhirnya, ada satu titik saya merasa Allah menyuruh saya berhenti. Dan setelah ngelakuin… rasanya hati jadi jauh lebih tenang. Semua rasa hilang begitu aja, berganti jadi rasa malu karena sadar bahwa kedewasaan (dan kelurusan niat) saya menukik tajam selama beberapa bulan ini. Setelah berdamai dengan diri sendiri, Alhamdulillah sekarang saya siap buat pelan-pelan merajut lagi “Syafira” seperti yang ingin saya bentuk :)

PS: Buat yang sedang berjuang juga, ini link yang sangat membantu dalam proses pemulihan [1][2][3][4], dan ini kesimpulan saya [1].

Kehidupan Sehari-Hari

Seharipun ga pernah saya nyesel memilih Edin sebagai destinasi belajar. Bukan karena kota-kota lain ga bagus, but Edin fits me more perfectly. Biaya hidup juga masih wajar. Memang, LPDP memberi uang hidup untuk Edin setara dengan kota-kota lain yang biaya hidupnya lebih rendah, tapi yasudah syukuri aja toh masih sangat cukup.

screen-shot-2017-01-20-at-1-37-48-pm

Rangkuman (sebagian) pengeluaran di tiga bulan pertama. Disclaimer: saya ga hemat

Akomodasi saya berharga 6.247 GBP setahun. Di bulan awal, saya sengajain bayar untuk setengah tahun supaya 1) ga merasa punya uang banyak dan 2) kalaupun ada apa-apa, kebutuhan primer tagihan flat sudah terpenuhi.

fullsizeoutput_b61

Saya di akomodasi kampus dan berbagi dapur dengan 4 orang mahasiswa internasional lainnya. Kalau berminat liat video suasana flat saya dan temen lain, monggo bisa hubungin Mbak Anik karena saya pernah ngirim ke beliau

screen-shot-2017-01-21-at-10-31-19-am

Pengeluaran tiga bulan pertama. Credit goes to aplikasi “Money Lover” yang udah 5 tahun-an ini super membantu mentrack keuangan dan budgeting bulanan.

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah: “uang dari beasiswa cukup ga?“. Saya akan jawab dengan yakin: cukup, sangat cukup. Saya ga memakai uang apapun kecuali dari LPDP (bekal dari orang tua saya kirim balik dan saya ga memakai tabungan apapun). Memang, di awal perlu modal banyak untuk menalangi keperluan pembuatan visa dll (yang disikapi beberapa temen yang belum punya kartu kredit dengan meminjam kartu kredit kenalan yang mereka ganti begitu reimburse dari LPDP turun). Untuk IELTS, banyak yang sengajain ikut simulasi gratis dan mengusahakan hadiah test. LPDP sendiri juga membiayai les dan test IELTS (+ transportasi menuju lokasi dan uang hidup selama les) untuk jalur afirmasi dalam program bernama “Pengayaan Bahasa”. Saya sangat percaya kalau orang-orang yang berjuang dari awal tanpa back-up justru bakal menjadi lebih matang dibandingin saya yang punya jaring pengaman. Orang-orang yang “berjuang” dan berhasil overcome keterbatasannya ada di daftar tertinggi orang yang saya respect-in :)

Uang dari LPDP pernah telat turunkah?”. Buat saya, belum pernah. LPDP memberi kita uang hidup dengan skema tiga bulan sekali. Jadi, untuk saya yang masa kuliahnya setahun mulai dari September, LPDP memberi uang 4x pada bulan September, Desember, Maret, dan Juni. Kita bisa mulai mengajukan permohonan turunnya uang tersebut setiap tanggal 20 di bulan sebelumnya alias tanggal 20 di bulan November, Februari, dan Mei (untuk bulan pertama bisa mengajukan saat sudah ada bukti pendaftaran ulang). LPDP menjanjikan uangnya akan turun (dan kasus saya janjinya belom pernah dilanggar; bahkan pernah lebih cepat) maksimal 10 hari kerja sejak permohonan kita di-acc. Meski demikian, memang ada beberapa kejadian yang terkendala entah di administrasi dll sehingga ada kemungkinan uangnya ga turun sesuai ekspektasi dan membuat punya tabungan itu wajib banget. PS: saya memilih skema pembiayaan syariah. Jadi, walau memilih skema pembiayaan syariah, sejauh ini living allowance ga lebih lama untuk cair.

Kehidupan Agama

Seperti yang saya ceritakan ke Mbak Yunan dari Kompas.com [1, 2]  (iya, saya salah ngasih opsi foto), orang-orang di Edinburgh sangat menghargai perbedaan termasuk perbedaan agama. Memakai rok dan jilbab agak lebar ga menjadi masalah walaupun memang orang-orang jadi lebih terang-terangan nengok buat ngeliatin.

Pakaian yang jelas-jelas menunjukkan kepercayaan juga sebenernya menguntungkan. Saat berkenalan dengan orang baru (non-Indonesia), sangat jarang mereka mengulurkan tangan buat jabat tangan karena mereka ga yakin kita mau sentuhan atau ega. Saat kita menolak untuk berjabat tangan, mereka juga santai tanpa menuntut penjelasan lebih lanjut. Setiap makan bareng, mereka juga mau aja ke tempat halal/ada vegan menu. Sering juga saya ditanya-tanyain tentang agama (“apa sih halal?” “kenapa ga bisa makan babi?” “gimana pandangan Islam tentang X Y Z“) yang bikin makin sadar kalau saya sendiri-pun masih sangaat banyak perlu memperdalam agama.

Makanan sama sekali ga menjadi masalah. Selain beberapa toko daging halal tersedia di samping kampus, restoran halal-pun cukup banyak (my favorite: Zuhus, Marmaris, Kebab Mahal, Yocoko (ayamnya halal), Kampung Ali (ayamnya halal)). Bahan makanan kesukaan tersedia di Starlight (vegetable gyoza, halal shoyu, udon, enoki, soba) dan Matthew (tempe, lele). Beli jajanan di minimarket tinggal cari yang “suitable for vegetarian” plus pastiin kalau tidak mengandung alkohol. Jadi, ga perlu nurunin standard maupun berkompromi tentang ke-halal-an asupan :) Juga ga perlu ragu buat kekeuh makan di tempat halal atau at least ada vegetarian menu kalau lagi jalan ramai-ramai, karena *harusnya* bakal dimengerti (atau, bawa bekal aja dari awal). Selain itu, jangan segan untuk beli alat-alat masak sendiri dan ngasih statement ‘sorry I can’t share‘ supaya ga bercampur sama yang dimasak flatmate; mereka bakal memaklumi kok kalau kita jelasin.

Edinburgh sendiri punya mesjid besar nan nyaman persis di depan kompleks kampus George Square yang di area akhwat ada kajian Al-Qur’an secara berkala *saya gatau gimana kalau ikhwan*. Begitupun dengan KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) Edinburgh yang punya kumpul berkala. Selagi punya jadwal yang teratur sebagai mahasiswa dan menjadi minoritas, menurut saya ini saat terbaik untuk memperdalam jati diri Islam sebelum berbakti di tanah air :)

Akhir kata, seperti temen-temen lain, hidup tentu ga sepenuhnya mulus di sini. Cuma.. that’s life. Allah has a plan for us, and we are exactly where He wants us right now. Walau yang sering kami upload adalah foto jalan-jalan/kumpul-kumpul, tapi semua orang bekerja keras di sini. Temen yang hampir tiap minggu ada di kota atau negara yang berbeda ya bergadangnya lebih getol dari saya. Berada di tanah rantau juga ngebikin orang-orang sama sekali ga segan buat saling bantu. Seperti waktu saya didiagnosis measles, dengan sangat bikin terharu temen-temen ngebawain makanan, buah, obat-obat-an ke depan kamar dan nelpon berkali-kali buat mastiin saya ga males makan. Orang-orang baik itu sukses meruntuhkan kepercayaan lama saya bahwa “ga ada relasi tanpa ulterior motive“.

Kalau ngelist satu per satu orang yang udah berjasa membuat hari-hariku lebih mudah dan bermakna, ada buanyaaak nama yang perlu saya tulis. So… you know who you are. Please do believe that I am gratitude for meeting you all & goodluck buat 7 bulan terakhir ini! :)

Advertisements

Jodoh

Beberapa bulan lalu, persis dua hari sebelum anniversary ketiga, Z dan saya menutup hubungan kami. Kami mendapat moment turning point masing-masing dan sampai pada kesimpulan kalau: hubungan ini ga bisa dilanjutin. Kalau ternyata di kemudian hari dia masih punya tendensi dan keyakinan terhadap saya, orang tua saya-lah yang perlu langsung dia hampiri; bukan dengan hubungan yang menggelisahkan hati ini. Kami berusaha meniti ilmu ikhlas dan berpikir “kalau jodoh, pasti ketemu lagi. Kalau bukan jodoh, yaudah Allah punya rencana yang pasti lebih baik“.

Dan persis di hari ini, saya dapet cerita bahagia dari Z kalau dia sedang merajut kisah baru. Denger dia cerita dengan nada semangat dan bahagia tentang bagaimana dia yakin akan hubungannya, saya jadi ikutan bahagia banget sampai terharu. Saya dikasih tau siapa orangnya, dan saya ngerasa dia cocok mendampingi Z. Lebih cocok dibandingin saya *serius*, yang bikin saya suppeeeer happy. Lega. Bahagia. Sehingga, berhubung masih ada yang salah paham akan cerita kami, I think that I need to publish this story :) 

Proses hingga kami sepakat untuk menutup kisah tiga tahun kami tentu ga berjalan mulus begitu aja. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar. Apalagi saya bahagia dan bangga dengan hubungan kami. Dia udah jadi sahabat terbaik, rumah tempat kembali, orang yang memegang kepercayaan penuh, dan tiang yang menyangga kewarasan diri saya. Dia-pun mengaku bahagia dan selalu mengusahakan apa yang dia bisa untuk memperkuat ikatan kami. Kami juga sudah membicarakan jenjang selanjutnya, bahkan bahasan penting-ga-penting kayak warna interior di kamar setelah nikah udah diobrolin.

Tapi, seperti yang saya katakan ke banyak temen yang mempertanyakan keputusan kami, “pacaran” & “proses mendekatkan diri ke Allah” memang ga akan bisa sejalan. Excuses apapun (”biar ada yang bangunin tahajud” “biar ada yang ingetin sholat/puasa“abis ini berniat nikah kok”) ga bisa valid.

Saya mengatakan ini dari pengalaman tiga tahun. Selama tiga tahun itu, sebenernya ada beberapa moment saya kepikiran mengakhiri hubungan ini karena alasan agama; tapi saya selalu ga punya keberanian untuk mengeksekusinya. Selama tiga tahun itu, seberusaha apapun saya untuk mencoba mendekatkan diri ke Allah, ketaatan saya ga maksimal karena berasa ada sekat (self-guilty maybe) yang menghalangi untuk benar-benar berserah kepada-Nya. Walau saya juga masih meraba-raba ilmunya, saya tau kalau hubungan antarlawan jenis dalam Islam udah sangat diatur (1, 2, 3). Walau – to be honest – hampir semua larangan dalam berinteraksi tersebut udah pernah saya langgar, Az Zumar: 53-54, selama masih dikasih waktu sama Allah ga ada kan kata terlambat untuk memulai ke arah yang lebih baik? Tentu, dosa-dosa yang saya lakukan selama menjalani hubungan-hubungan yang lampau bakal perlu saya pertanggungjawabin di akhirat; tapi saya ga sekebal itu untuk sengaja menambah tumpukan dosa yang udah banyak. Kesiram minyak aja udah mengaduh kepanasan apalagi harus makin lama di neraka…

Sampai ada satu moment, saya berada di persimpangan. Saya ketemu orang lain  yang saat saya memandang dia, saya seolah memandang diri saya sendiri dengan versi lebih baik. Makin dan makin kami ngobrol, saya makin yakin dengan dia. Singkat cerita: saya harus memilih. Di kebimbangan itu, pada siang hari, saya mengambil wudhu untuk sholat dhuhur yang hampir lewat waktunya. Di saat itu, tiba-tiba hati saya merasa sesak. Sangat, sangat sangat sesak seperti mau nangis dan tiba-tiba terlintas kesadaran “Ya Allah. Kapan terakhir kali saya berwudhu dengan benar? Dengan sepenuh hati? Dengan berserah diri kepada-Mu?”. Saya tiba-tiba rindu, sangatttttt rindu akan getaran hati saat beribadah kepada-Nya. Setelah sholat, saya nangis sejadi-jadinya karena saat itu kadar keimanan saya sedang sangat minim. Jangankan sholat sampai bergetar hatinya, gambaran rendahnya level religius saya pada saat itu: sampai perlu menjadikan “ga akan dengan sengaja sholat Subuh lewat waktunya” sebagai nadzar.

Akhirnya, saya memilih untuk: tidak memilih. Alhamdulillah, Z juga sedang berusaha meningkatkan kapasitas agama dan sepakat kalau pacaran bertentangan dengan agama Islam. <Saya perlu menekankan kalau di kisah barunya Z sekarang, Z udah ngomong ke si pihak wanita kalau dia ga bisa pacaran dan akan langsung ke hubungan yang lebih lanjut.> Alhamdulillah, si orang lain juga sama sekali ga mau meneruskan interaksi kami karena dia tiba-tiba teringat kalau interaksi lawan jenis harus dibatasin dalam Islam. *Subhanallah, Allah selalu punya rencana tak terduga untuk menunjukkan jalan-Nya*

So, bisa ngerti kan kenapa saya bahagia nan lega begitu tau Z menemukan kisah baru? Walau dia bilang ikhlas dan baik-baik aja, tapi saya tau kalau saya udah nyakitin dia. Padahal Z adalah orang paling sweet, baik, family man, pekerja keras, dan bertanggung jawab yang pernah saya kenal; siapapun yang dapet dia akan bersyukur dan bahagia. Apa yang saya capai sekarang juga ga akan tercapai tanpa bantuan dia. Sehingga saya bener-bener berharap dia mendapat yang terbaik dan bisa bikin dia bahagia dunia akhirat :) Hubungan kami berakhir karena memang harus berakhir aja. Dan, di obrolan hari ini, kami berdua sepakat kalau kami bersyukur hubungan ini telah kami tutup. Yes, I know that for some people he means me and I mean him but please do move on because we already did.

Walaupun tentu, karena udah terbiasa menjalani hubungan bertahun-tahun yang nyaman, ada banyak fase saya desperate nunggu jodohBanyak waktu saya ngerasa kalau besok pagi bisa akad, mau banget deh akad sama siapapun yang dateng ke wali dan bisa bikin istikharah saya dan orang tua yakin. Meratap dan menangis dalam doa, rasanya makin desperate. Ga sabar dikasih jawaban akan pertanyaan siapa jodohku.

Tapi di puncak dari moment-moment itu, tiba-tiba, saya dihantam sama kesadaran kalau: Saya doa-nya ga pasrah. Jauh dari berserah diri. 

Saya dengan sombong ngerasa masih ada “usaha manusia” yang bisa dilakuin buat memaksakan jodoh saya segera dateng. Merasa “kalau gw lebih berkualitas, si jodoh bakal segera lamar”. Jadinya karena usaha memantaskan diri belum membuahkan hasil, rasanya tambah frustasi. Tambah kopong. Tambah galau. Saya kemarin-kemarin berdoa, berusaha, tapi maksa Allah untuk segera ngasih jawaban. Karena belom dikasih, jadi bete.

Kurang sombong apa? Berasa ga sadar kalau jodoh itu urusan-Nya. Bahkan kalau Beliau mau, bisa aja di dunia saya ga dikasih jodoh sama sekali. Mau sesholeh apapun (which I haven’t), sepinter apapun (which I haven’t), se-blabla-apapun; kalau Dia ga berkenan (dan Dia Maha Memutuskan, tanpa perlu ngasih tau alasannya ke kita) ya kita ga akan dikasih.

Mungkin, itu kenapa kita diajarinnya untuk memohon dikasih “kasih sayang-Nya”? Diberi “belas kasih-Nya”? Bukan minta “bayaran atas usaha” kita.

Karena yang dikasih Allah belom tentu linear sama usaha kita.

Mau usaha kita 100, bisa cuma dikasih 10. Mungkin, untuk melihat kadar kesabaran kita. 

Tapi, di lain waktu, saat usaha kita 10, bisa dikasih 100. Mungkin, untuk menguji gimana kita bersyukur. 

Pada akhirnya, memutuskan suatu hubungan itu memang berat. Apalagi kalau udah berjalan lama, nyaman, dan dia menjadi salah satu pilar utama yang menopang kewarasan diri. Tapi makin berat pengorbanan kita, bukannya eskalasi dirinya akan makin tinggi? Hasbunallahu wa ni`mal Wakil’. Cukuplah Allah bagiku. Allah bakal menggantikan yang kita korbankan. InsyaAllah.

I wont judge yang sedang berada di suatu hubungan karena pada jamannya saya juga risih ngeliat kampanye “Udah Putusin Aja” di media-media sosial. Dijudge seperti itu ga nyaman di hati dan buat saya ga membantu menyadarkan dan justru membuat defensif. I believe that every one has their own turning points and the right time to do the right things, insyaAllah. Walau, tetep jadi pilihan kita untuk menyikapi saat turning point sebenernya udah menyapa: mau disambut atau di-bye-byein dari jauh aja :)

Akhir kata, saya mohon doa supaya usaha saya untuk menjaga hati dan meningkatkan kapasitas diri ini mendapat kelancaran, mohon juga diingatkan kalau saya melenceng kembali. Dan untuk ikhwan-ikhwan, tolong bantu saya dalam menjaga hati dengan tidak mengirimkan sapaan apapun di media sosial jika tidak mempunyai keperluan. Saya insyaAllah akan dengan senang hati merespon pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pengetahuan saya (akan beasiswa, kuliah, atau sejenisnya) tapi mohon maaf di luar itu sepenuhnya saya abaikan. Saya ga menutup pintu literally untuk siapapun, tapi kalau serius mohon bisa langsung ke wali saya aja. Sejauh ini kriteria saya cuma tiga: 1) agama, 2) menghargai dan menikmati proses mencari ilmu, dan 3) ahli syukur. Seperti yang saya ceritakan di atas, saya melepas orang luar biasa karena alasan agama. Sehingga saya sama sekali ga berminat akan interaksi yang tidak sesuai dengan kaedah agama, apapun judulnya. Saya sedang merangkak belajar dan keteguhan hati saya masih jauh dari sempurna, jadi tolong jangan diganggu :)

Semoga Allah merahmati usahamu dan usahaku.

LPDP – Kisah & Tips Trik

Kualifikasi saya memenuhi kriteria “pas-pasan” untuk standard LPDP: IP sangat mepet (sampai waktu wawancara ditanyain “kok IP kamu cuma segini?”), bahasa Inggris terutama speaking minim, mendaftar dengan TOEFL ITP belum tes IELTS, hingga belum ada LoA bahkan belum daftar ke universitasnya. Saya cukup percaya kalau saya salah satu yang paling minim pemenuhan syarat administratifnya hehe. However, thats why this story was written. Saya mau para pembaca berani bermimpi dan berpikir “Syafira yang gini aja bisa, berarti saya juga bisa” :) Selamat membaca.

ADMINISTRASI

Tantangan dalam pemenuhan seleksi administrasi ada tujuh: IP, Essay, LoA, SKCK, Surat dari Rumah Sakit, Sertifikat Bahasa Inggris, dan Surat Rekomendasi.

  1. Indeks Prestasi. IP saya pernah turun > 1,00. Yap. Bukan 0,1 tapi 1,00. Pernah juga mengalami jaman IPK <2,5. Syarat IP minimal LPDP adalah 3,00 dan saya cuma 0,0x di atas batas itu :)
  2. Essay. (Proses pencarian ilham, penulisan, dan revisi-revisi memakan waktu +-2 bulan. Super makasih buat Aris, Fawwaz, Dinda, Zaki yang udah ngebaca dan ngasih masukan. Saya kurang yakin essay ini sebaiknya dipublish secara umum atau tidak, jadi kalau berminat baca-baca monggo japri saya/tuliskan email di kolom komentar & akan saya kirimkan :)) Di batch 3 2015, ada tiga essay yang perlu ditulis dan berikut tips saya buat tiap essay :
    1. “Kontribusiku bagi Indonesia”: ceritain kenapa kita cinta sama Indonesia, kita selama ini tertarik dengan bidang kontribusi apa (contoh saya: bidang legislatif), apa yang udah kita perbuat yang sejalan dengan bidang itu (contoh saya: menjadi Senator, ketua komisi di Kongres KM-ITB, internship di MPR, tugas akhir tentang DPR), dan ke depannya mimpi kita mau ngapain + selama ini udah melakukan  apa untuk mencapai mimpi tersebut; hubungkan dengan rencana studi (contoh saya: akan bergabung dengan BAPPENAS/Kominfo, rencana studi di ICTs for Development, sehingga sekarang sedang bergabung dengan proyek Smart City Bandung). Intinya menegaskan kalau kecintaan kita ke Indonesia bukan cuma wacana.
    2. “Sukses Terbesar dalam Hidup”: saya membaca cukup banyak essay referensi tentang ini dan menyimpulkan: sukses terbesar bagi setiap orang itu sangat variatif mulai dari tentang “bisa kuliah” (karena ekonomi keluarga terbatas) hingga “juara kelas” (karena membahagiakan orang tua). Sukses terbesar saya sendiri: “bisa move on dari mantan“. Iya. Serius :) Saya ceritain gambaran ketidaksuksesan kisah percintaan dan pembelajaran apa yang didapat dari proses usaha move on tersebut. Honestly awalnya saya juga merasa kisah ini creepy haha, tapi ya gimana memang inilah sukses terbesar saya. Saya berusaha jujur & merangkai latar belakang itu menjadi fondasi yang membuat saya menjadi saya sekarang. Tak lupa juga selipkan ‘citra diri’ yang ingin ditegaskan seperti inovatif dan gigih.
    3. “Rencana Studi”: saya membuat kesalahan di essay ini. Essay saya cukup dangkal, cuma secukupnya menuliskan: kenapa jurusan tujuan penting untuk cita-cita saya dan Indonesia, kenapa harus universitas tersebut, mata kuliah apa yang mau diambil, dan rencana tesis seperti apa. Teman-teman yang lain ternyata menuliskan hingga 7 halaman rencana tesis mereka. Rencana tesis saya hanya topik dan gambaran umum aja (karena belum terbayang) sehingga ini menjadi kesulitan waktu wawancara.
  3. LoA. Pada waktu seleksi administrasi, kolom ini saya kosongkan. Bahkan hingga saat seleksi wawancara, saya belum menyelesaikan proses pendaftaran ke University of Manchester karena belum ada IELTS dan belum mencari surat rekomendasi. Sehingga bekal ke seleksi wawancara hanya screenshoot bahwa saya sudah memulai mendaftar online ke UoM.
  4. SKCK. Buat perantau, pengurusan SKCK merupakan tantangan tersendiri karena hingga saat ini – setau saya – pengurusan SKCK harus di daerah domisil KTP. Alokasikan 5 hari untuk pengurusan, dulu saya salah perhitungan waktu sehingga harus 2x ke Yogyakarta. Proses dimulai dari pengurusan ke Pak Dukuh (untuk di daerah saya ga perlu ke RT RW), lalu Kelurahan, Kecamatan, Polsek, dan (karena Polsek ga mau mengeluarkan SKCK untuk yang bertujuan ke luar negeri) Polres.
  5. Surat dari Rumah Sakit. RS-nya harus RS pemerintah, di Bandung yang cukup nyaman Rumah Sakit Hasan Sadikin. Alokasikan 3 hari untuk pembuatan: surat bebas narkoba (via urin dan wawancara dengan psikolog), surat keterangan sehat, dan surat bebas TBC (ga bisa satu hari karena hasil ronsen baru bisa diambil hari setelahnya). Biaya yang diperlukan sekitar 400ribu dibayar tunai. Waktu operasional Senin – Jum’at, jam 09.00 – 15.00
  6. Sertifikat Bahasa Inggris. Sejujurnya, pada awalnya saya berniat mendaftar LPDP untuk tujuan dalam negeri (jurusan Ekonomi Pembangunan di UGM) karena beberapa pertimbangan termasuk lemah di kemampuan bahasa Inggris *pernah separah “Im is Fira, nice to meet you”*. Untuk pendaftaran dalam negeri, syarat TOEFL ITP yang dibutuhkan 500 dan untuk score tersebutpun orang tua ga percaya saya bisa mencapainya haha. Hingga pada saat pulang ke Yogya beberapa minggu, saya ‘dikurung’ orang tua buat les privat bahasa Inggris. Untung pengajarnya recommended, setiap hari beliau datang ke rumah selama seminggu dari jam 08.00 – 15.00 *Japri saya untuk yang berminat kontaknya :)* Uji coba pertama, score 500 lebih sedikit. Selama proses belajar, nilai saya naik walau fluktuatif hingga hampir 600. Berbekal kayakinan bisa mencapai syarat untuk tujuan luar negeri (550), sayapun mengubah rencana studi ke luar negeri. Tetapi oh tetapi, waktu hendak mendaftar tes TOEFL, saya baru tau kalau pendaftaran itu perlu jauh-jauh hari sebelum kuota penuh & hasilnya baru keluar +- 2 minggu setelahnya. Saya cek jadwal semua penyelenggara TOEFL di Bandung, Yogya, hingga Magelang dan semua penuh/jadwal tidak cocok. Akhirnya ada yang cocok di Jakarta, dan karena ga ada kenalan yang domisil di sekitar lokasi tersebut, saya pakai jasa kurir (HandyMantis) untuk pendaftarannya. Walau ternyata, kesempatan tersebut belum rezeki saya. Hasil tes telat keluar sehingga pendaftaran LPDP batch 2 udah ditutup. Pada waktu hasil sudah keluar, ternyata score saya-pun super tanggung: 547. Yasudah. 1-2 bulan setelahnya, saya coba lagi di BLCI Bandung dan supaya maksimal saya ambil prediction test dulu di tempat tersebut (@ Rp 80.000, maksimal coba 3x setahun). Sebagai gambaran, tiga hari berturut-turut score prediction test saya: 547, 565, dan 587. Pas tes yang sebenarnya, score saya 560.
  7. Surat Rekomendasi. Cari dosen/atasan yang saat berhubungan dengan beliau kita paling puas dengan kinerja kita. Saya sendiri meminta dosen wali saya, Pak Imam, karena pernah menjadi sekretaris di conference yang beliau ketuai. Dengan sangat murah hati (dan tentunya overrated), beliau memberi “sangat baik” untuk semua kriteria penilaian

WAWANCARA, ESSAY OTS, LGD

Sejak dinyatakan lulus administrasi, saya langsung cari-cari referensi tentang seleksi wawancara & LGD. Supaya bisa saling ngasih informasi, kami bikin group Whatsapp anak-anak ITB yang akan seleksi di Bandung. Di group itu, Reza EL ngasih link-link bermanfaat salah satunya excel perkiraan pertanyaan & jawaban dalam bahasa Indonesia dan Inggris (dengan perubahan & penghapusan bagian personal, bisa didownload di sini). Lalu supaya bisa tau kepribadian & interest masing-masing, saya ngepo & nge-add Facebook temen sekelompok LGD yang 5 per 6-nya anak ITB. Saya juga konsultasi ke beberapa orang yang pernah ikut wawancara LPDP (makasih banyak Tika, Ozan, Hafidz, Bening, Kenny) maupun sedang kuliah di fakultas yang saya tuju (terima kasih waktunya, Ocha & Kak Bayu). Tak lupa beli Tempo & Kompas buat dapet data untuk seleksi essay/LGD.

Pada Hari-H, alur yang saya ikuti: Essay on the Spot, LGD, lalu wawancara berturut-turut tanpa jeda.

  1. Essay on the Spot. Kita memilih satu dari dua tema yang diberikan dan menulis pendapat/argumen mengenai hal itu. Saat itu, tema yang bisa dipilih adalah tentang transporasi dan tentang hukuman mati. Saya memilih tema hukuman mati. Untungnya, saya sudah les IELTS sehingga kurang lebih mempunyai pedoman penulisan pendapat yaitu: paragraf pertama adalah introduction (tulis ulang pertanyaan dengan bahasa sendiri, gambaran pendapat kita (setuju/ga setuju), dan gambaran essay ini akan membahas mengenai apa), paragraf kedua ketiga keempat mengenai argumen kita (satu paragraf = satu pokok argumen), dan paragraf terakhir berisi kesimpulan (ga boleh tambahin argumen/info baru, cukup simpulin dari paragraf-paragraf sebelumnya).
  2. Leaderless Group Discussion. Beberapa jam sebelumnya, kelompok kami udah kumpul dan mendiskusikan pembahasan. Walau dari pengalaman sebenernya lebih baik ada moderator yang mengarahkan forum… ga ada dari kami yang mau jadi moderator karena moderator berada di posisi sulit: ga boleh terlalu dominan tapi perlu mengarahkan forum. Akhirnya tanpa kesimpulan, kami masuk ke ruangan LGD. Setelah penjelasan singkat dari pengamat (2 orang), kami diberi potongan berita mengenai ‘perubahan kurikulum pendidikan di mana pendidikan budi pekerti dimasukkan ke dalam pelajaran formal’. Saya tertegun ngebaca tema ini karena saya hanya menyiapkan diri dengan data-data tentang isu politik, sapi, monorel, hingga kondisi rupiah; sama sekali ga kebayang isunya tentang pendidikan. Akhirnya daripada bengong, saya tanpa permisi memosisikan diri jadi moderator (ini salah banget. Harusnya permisi minta persetujuan dulu). Saya berusaha ga terlalu dominan, tapi tetep mengarahkan (walau ada bagian fail berat). Saat ada yang mengkritik alur bahasan, saya berusaha tidak terhina dan berterima kasih (karena sang pengamat sengaja ngamatin respon saya saat itu). Sebagai moderator, saya berbicara banyak tapi sangat sedikit berpendapat (hanya 1-2 pendapat) dan ada saat-saat bengong juga hehe. Keluar dari ruang LGD, saya udah bertekat kalau ga lolos batch 3 dan mencoba batch 4 ga mau jadi moderator lagi -_-. Any way menurut saya pribadi, yang lebih penting dari LGD bukanlah “bobot pendapat” tapi “manner”-nya. Kalau menyampaikan pendapat, langsung aja gausah pake kata pengantar yang kepanjangan. Kalau dikritik tetep happy ga tersinggung, kalau mengkritik/kurang setuju mengutarakan dengan sopan. Usahain juga kasih pendapat yang out of the book/mengacu pada kondisi di daerah tertentu (contoh: pengalaman di daerah asal atau kondisi di luar negeri) sambil pastiiin pendapat kita relevan dengan alur pembahasan plus jangan sampai mengulang pendapat orang lain (karena ini mengesankan kita ga dengerin pendapat orang tersebut).
  3. Wawancara. Jadwal wawancara saya saat itu dimajuin banget dari harusnya jam 17 menjadi jam 15, langsung setelah LGD. Kaget. Yaudah saya langsung ke lokasi wawancara setelah pamit sama temen-temen LGD. Sampai di lokasi, ternyata kartu peserta saya hilang! Saya keliling-keliling nyari dibantu petugas-petugas. Akhirnya pas cek di tas, ternyata keselip di sana hahaha “_”. Akhirnya sambil ngos-ngosan, saya langsung masuk ruang wawancara. Ruangannya adalah aula besar, di mana setiap jarak 10-15 meter ada 3 orang pewawancara di balik meja panjang yang menghadap ke satu kursi. Setelah menyapa dan menyalami masing-masing pewawancara, *dengan masih ngos-ngosan* saya duduk (dan lupa minta ijin buat duduk). Di depan saya ada 3 orang: ibu psikolog berkerudung, bapak-bapak sepertinya dosen, dan ibu-ibu sepertinya dosen.
    1. Okay Syafira. You want to enroll ‘ICTs for Development’ in University of Manchester. Tell me about your study plan. Please describe it in English *kaget langsung pertanyaan dalam bahasa Inggris. Walau saya udah simulasi 3x ngejawab pertanyaan persis seperti ini dalam 2 bahasa, tapi pas ngejawab tetep ‘ang eng ang eng’. Baik grammar maupun jawabannya ngaco. Sampe pewawancaranya mengenyitkan dahi*
    2. How can this major help you to reach your dream?
    3. Rencana tesis kamu seperti apa? *akhirnya dalam bahasa Indonesia*
    4. Tugas akhir kamu seperti apa? Hubungan sama tesis kamu?
    5. *Mengonfirmasi CV dan meminta penjelasan dari kegiatan-kegiatan itu*
    6. Apa cita-cita kamu? Kalau ga bisa mencapai cita-cita itu, apa yang akan kamu lakukan? 
    7. Kamu pernah mengalami kegagalan? Seperti apa? *saya ceritain tentang kisah percintaan saya hahaha untungnya pewawancara tertarik*
    8. Terus kamu sekarang udah move on? Udah punya pacar lagi? Pacar kamu pdkt-nya berapa lama setelah kamu move on? Dia gimana kalau ditinggal kuliah?
    9. Kamu kenapa IP-nya cuma segini? *saya keceplosan jawab “dulu IP saya lebih jelek lagi Pak”. Kepalang tanggung, saya lanjutin “sejujurnya pada tingkat 3, saya merasa IP bukan hal penting. Tetapi saat menemukan cita-cita berbakti di BAPPENAS, ternyata syarat IP minimal adalah 3,00 sehingga saya berusaha mencapai itu”. Saya kasih penekanan bahwa pada saat sedang menjabat (plus jabarin amanah yang dipegang & rapat yang sampai subuh hampir tiap hari), saya mendapat IP 4,00. Saya juga uraiin gimana pengaturan waktu saat itu*
    10. Ada cerita kegagalan kamu yang lain? *Saya jawab “banyak Bu” dan dengan antusias saya jabarin. Di akhir cerita, saya kasih penekanan “moto hidup saya everything happens with a reason sehingga segala yang terjadi di hidup memang adalah jalan yang terbaik bagi diri saya. Saat mendapatkan kegagalan, saya menikmati saja karena yakin pasti ada hikmah di balik hal itu”. Akhirnya saat itu ketiga pewawancara menunjukkan muka tertarik setelah sebelumnya muka bosan hehe*
    11. Oke cukup segini aja. *Kaget, saya keceplosan “udah Pak?”* Iya udah. *Saya ucapin terima kasih, lalu langsung pergi kelupaan nyalamin para pewawancara*

Kelar wawancara, sejujurnya ada beberapa hal mengganjal. Saya kesel sama ketidaklancaran bahasa Inggris saya. Saya kelupaan ngejelasin kenapa ingin jadi PNS di BAPPENAS/Kominfo, padahal alasan itulah selling poin utama saya. Dan terutama saya malu karena pas ngejelasin rencana studi malah bingung sendiri. Tapi setidaknya, saya udah menyampaikan poin-poin utama yang ingin disampaikan.

Membahas mengenai tips wawancara, tentu sebelum wawancara saya udah bertanya ke beberapa orang mengenai tips-tips mereka. Dari mereka, mayoritas mengatakan “jadi diri sendiri” yang pada saat itu saya merasa sebagai saran yang ga membantu. Tapi setelah wawancara, saya sadar ternyata memang itulah yang perlu dilakukan. Pewawancara hanya menanyakan apa yang memang ada di diri kita. Jadi untuk temen-temen yang sampai ke tulisan ini berbekal keyword ‘tips wawancara lpdp’, ini saran saya: kenali diri sendiri (kelemahan, kelebihan, moto hidup, dll), pahami jurusan serta rencana tesis, perlancar bahasa Inggris, dan tentunya berdoa ke Yang Maha Punya Kuasa. Doa saya sendiri spesifik, salah satunya “semoga wawancaranya dalam bahasa Indonesia, atau saya dimampukan jikapun dalam bahasa Inggris”.

Dari semua yang terjadi di proses seleksi ini, saya sendiri juga heran kok kenapa saya bisa lolos hehe. Tapi memang Tuhan memberi yang terbaik bagi diri kita masing-masing kan, berarti Alhamdulillah ini bagian dari rezeki saya.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat menggapai mimpi dan mari bersemangat di kebermanfaatan masing-masing. Kalau ada yang mau nanya-nanya/butuh bantuan yang bisa saya bantu, please feel free to contact me :)

Why him?

Selamat malam orang-orang yang sedang menikmati & memperjuangkan suatu hubungan. Ijinkan saya mengajukan pertanyaan singkat: have you ever asked your self something like “is he/she really the one for me?”

Kalau saya, pernah.

Di banyak bulan awal, saya masih jadi saya yang suka ngelunjak & mikir: “ah paling kalau putus, aku bisa dapet yang lebih keren, lebih pinter, lebih prospek, lebih x y z”. Tapi makin kenal dia… saya ternyata harus takluk.

Kami kenal udah cukup lama. Tapi baru deket sejak dia jadi ketua organisasi tempat saya beramanah; dan saya baru tertarik ke dia lama setelahnya.

Waktu itu, karena hujan deres, dia nganterin cewe-cewe pulang dari kegiatan organisasi. Saya (sengaja dia plot) dianter terakhir. Terus kami ngobrol basa-basi biasa. Saya nanya rencana dia ke depan mau ngapain. Dia juga nanya apa rencana saya.

Saya bilang “aku mau lanjut S2 di Ekonomi Pembangunan Zak. Cita-citaku ngebangun desa”. Dia termenung “…” “Sama. Aku juga”

Since that, saya jadi ngeliat dia dengan cara yang beda. Kaget. Karena sejujurnya penampilannya bukan tipe orang yang peduli sama hal-hal pengabdian. Tapi ternyata dia jauuuhhh lebih peduli, nasionalis, & idealis dari penilaian saya. Bahkan harus saya akui, dia lebih peduli, nasionalis, & idealis dari saya. 

Dia lebih peduli. Dia anak tunggal dengan jiwa anak sulung.  Kalau ada makanan enak, dibagi ke sekeliling. Lagi hujan deres di kampus, yang dia pikirin “Aku mau beli martabak dulu. Kasian satpam-satpam”. Pas mau delivery makanan dari pulau sebelah, dia ga pelit buat “aku bagi sama ibu kosan kok”. Waktu hujan deres banget & ngeliat ada orang ngedorong mobil mogok, dia langsung nyamperin & hujan-hujanan bantu ngedorong mobil.

Dia lebih nasionalis. Cita-cita saya berbakti buat Indonesia. Tapi ternyata, saya harus mengakui saya belum seekspresif dia ngutarain nasionalismenya. Saya belum sampai waktu di restoran ada tayangan debat capres & diputer lagu Indonesia Raya: langsung berdiri, sikap hormat, dan nyanyi Indonesia Raya.

Dia lebih idealis. Terutama kalau tentang aturan lalu lintas. Selama bisa, dia ga akan mau ngelanggar peraturan lalu lintas apapun. Kalau saya belum pake safety belt, dia bakal diem lama nungguin saya selesai make safety belt baru mau jalan.

Dia pacar yang pengertian & perhatian. Gigih. Perferctionist. Rapi. Suka kebersihan & keteraturan. Cerdas. Loyal tapi mau ngertiin prinsipku yang ga mau dibayarin makan/jalan. Sangat family man. Jago-banget-masak. Dan banyak lagi yang bikin saya jatuh cinta dengan rasional.

(of course) He is not a perfect-man. Tapi justru dengan imperfection-nya itu, saya makin takluk. Karena saya percaya dan udah ngeliat dia bakal bener-bener berusaha buat jadi lebih baik.

Happiness often sneaks in through a door you didn’t know you left open – John Barrymore.

Saya belum tau, semesta menakdirkan kami menjadi the one satu sama lain atau tidak. Yang saya tau: saya bahagia, bersyukur, & antusias dengan hubungan ini.

Entah.

Pernah merasakan hampa & kehilangan semangat melakukan apapun? Sejak 3 atau 4 bulan lalu, saya mengalaminya.

Berawal dari kekecewaan & penggugatan atas pilihan seseorang yang (sangat) dekat denganku – karena dia mengimplementasikan tuntutan agama yang jarang dijalankan orang lain -, saya jadi menggugat agama saya. Iya. Agama. Segala pembelajaran yang kukunyah pelan-pelan sejak mulai belajar agama ini seolah lenyap, langsung berubah jadi sebel, marah, marah, dan marah. Dari pada makin memperburuk hati, akhirnya saya memilih tidak peduli dan menjauh. Menjauh dari seseorang itu, sekaligus menjadi jauh dari agama saya. Menjauh dari agama itu sesuatu yang bodoh memang, tetapi … saya butuh sesuatu untuk dipersalahkan.

I deserve a bad judgement.

Getaran di gerakan ibadah tidak lagi bisa kurasakan. Saya sudah lupa ketenangan dan kesucian dari pemenuhan wudhu. Bahkan arti hafalan sholat sudah hampir tak pernah dibatinkan – sekarang sholat saya seolah hanya ritual berdiri bungkuk sujud duduk dengan bacaan asing yang reflek diucap. Tanpa dipikir. Apalagi direnungkan.

Menjauh dari agama, menjadikanku menjauh dari segalanya. Menjauh dari ketenangan batin. Menjauh dari kemauan untuk belajar dan selalu memperbaiki diri. Menjauh dari pelaksanaan amanah yang dulu sekecil apapun segalu diusahain untuk ditepati (karena saya dulu sangat takut jika amanah itu ditagih di akhirat).

Semua itu membuatku jadi orang yang jauh dari sosok idamanku sendiri. Amanah yang sedang dijalani memang tetap dijalankan tetapi dengan alasan yang “manusiawi” : saya tidak berada di posisi yang bisa mundur. Saya akhirnya menjalani politis praktis, yang mementingkan ego dan hal-hal pendek akal lain. Hal-hal ‘kecil’ seperti “nanti ingetin itu” “nanti dicek” dengan gampang saya lupakan; padahal sekecil-kecilnya amanah seharusnya tetap bernama amanah.

Saya kehilangan tujuan untuk melakukan apapun. Jiwa dan semangat berkemahasiswaan padam pelan-pelan karena di dasar hati terasa merasa malu dengan diri sendiri yang seperti ini. Cita-cita untuk 30-40 tahun mendatang-pun saya timbang ulang, karena tidak merasa cukup yakin mampu menjalani amanah itu : wong di amanah legislatif kampus saja berpikir ego dan sempit, gimana di amanah yang lebih besar? Padahal, saya sudah berniat meneruskan pendidikan pascasarjana yang sejalan dengan cita-cita jangka panjang itu.

Apa yang sekarang saya inginkan? Entah.

Trigger di paragraf awal cerita ini bukanlah hal yang bisa kuubah.

Kita memang selalu punya kewenangan untuk memilih. Saya-pun sebenarnya tau pilihan mana yang bijak untuk dipilih.

Tapi : Entahlah. I (still) need time.

Godspeed.

Kita sedang berselancar di lautan kehidupan.

Ada kalanya, kita menikmati papan selancar kita terbawa arus begitu aja; dan ada kalanya perlu dayuh untuk menuju ke tengah lautan. Papan selancar-pun terkadang terbalik membuat kita tenggelam menelan air; memberi pilihan untuk menertawakan diri dengan geli, atau marah ke lautan karena membuat kita tenggelam.

Everything happens with reason. Kejadian-kejadian yang dulu rasanya bikin senyum-pun susah, ternyata sekarang jadi hal yang kutertawakan dan kusyukuri.

  1. Di amanah kami masing-masing, aku berinteraksi sama TER lagi. Maafkan aku karena mention dia kembali, tapi ini begitu lucu buatku :—} Masih inget banget, dulu aku menanti setiap kesempatan bisa ketemu sama dia, buat ngobrol sama dia. Tapi sekarang saat kesempatan itu udah ada, i feel nothing. Aku ketawa-ketawa aja pas orang-orang sekitar godain kami. Hatiku memang tak lupa kalo dulu pernah bahagia dengan sekedar ngeliat senyumnya dan mengingat cara dia memanggilku. Tapi .. thats all. Kami telah melalui jalan kami masing-masing. Kami-pun sepertinya sama-sama tau kalo itu adalah masa lalu. Kotak Pandoraku, sekarang sudah berani kuintip sewaktu-waktu dengan senyum geli tersemat di hati. Dan percayalah, perasaan lepas ini salah satu perasaan tertentram yang pernah kurasain.
  2. Periode kepengurusan ini mungkin periodeku mempunyai amanah dan jaringan tertinggi dibanding periode lain di Kampus Ganesha. Dan aku mentransformasikan itu untuk mewujudkan mimpi-mimpiku yang terpendam hehe. Kongres KM-ITB yang apresiatif dan KM-ITB yang aware terhadap Senator-Senatornya kucoba wujudkan melalui media-media Kongres. Semangat transparansi dan inspirasi kucoba tuangkan dalam dokumen “Diary Senator HMIF” yang insyaAllah terbit perbulan (sudah ada edisi AprilMeiJuni & Juli). Sebagai transfer knowledge dan agar periode mendatang tak mengulang kesalahan yang sama, kami buat dokumen yang berisi pola pikir kebijakan-kebijakan maupun kesalahan yang pernah terjadi. Ada proyek kolaborasi “Senandika Ganesha” yang insyaAllah akan segera dirilis. Semua itu, bikin aku makin tau kalau masih banyak banget yang perlu kupelajari dan tingkatin buat menjalani amanah ini :) Tau kan rasanya bisa pelan-pelan merealisasikan mimpi yang terpendam? Bahagia.
  3. Melewati usia dua puluh satu, pintaku ke Allah cukup berbeda dari taun-taun belakang. Dulu, doaku minta A B C yang didominasi keinginan. Sekarang permintaan yang kumohonkan dari Pemilik Semesta bentuknya cukup abstrak, yang aku sendiri-pun belum tau akan jadi seperti apa. Beberapa pola pikir juga mulai berubah. Pada waktu ospek dulu, orang-orang yang harus-sholat-begitu-Adzan dan harus-taraweh-berjamaah-di-Masjid itu kupikir menyusahkan karena ganggu kumpul angkatan (haha ya, sedangkal itu pemikiranku). Sekarang ospek/kumpul angkatan/acara himpunan-lah yang kurasa ganggu orang ibadah. Ramadhan yang cuma sebulan dalam setaun rasanya terlalu sayang kalau terlewatkan hanya demi acara almamater yang duniawi kan? ;)

Saat menuliskan ini, kantung bersyukurku jadi tumpah ruah. Banyaak berkah yang dengan Godspeed udah terjadi di hidupku; dan waktu, masih berjalan dan terus berjalan dengan menyenangkan.

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Semoga kita salah satu yang berkesempatan mengucap “tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan”

IMG_20130505_232442

Dear Semesta. Saya pengen bercerita.

Ini cerita tentang Forum Indonesia Muda 14, dan tentang banyak hal yang saya renungi karena ini. Mau ya, dengerin?

Selempang di gambar ini, bukanlah sesuatu yang aku ngerasa pantes buat menerimanya. Aku ga berasa ngapa-ngapain. Di sesi materi, aku sama sekali ga pernah dapet  kesempatan buat nanya (FIM luar biasa. Begitu sesi tanya jawab, berasa setengah ruangan semangat buat nanya. Bahkan ada yang langsung maju ke depan tanpa ditunjuk — walau yang ini disuruh balik ke tempat duduk lagi :p)

Aku juga bukan ketua kelompok. Kelompok kolaborasiku terhenti di babak awal. Kelompok api ekspresi belum menang. Kalaupun ada yang kulakuin itu cuma menikmati banget keseluruhan acara, dan mungkin, belajar diam.

Belajar diem ini, buatku, ceritanya cukup panjang. Semesta masih ingetkah?

Kalau aku, masih inget. Aku masih inget belajar diemku berkat himpunanku HMIF :) Dulu waktu awal kaderisasi himpunan, aku sama sekali bukan orang yang diem. Bawaannya  gatel mau ngelakuin semua, delegasiin orang tapi take over, etc. Tapi, dengan angkatan yang dengan semangat ngadain forum buat bahas saya & panitia yang juga membahas, saya jadi dapet tamparan cukup keras.

Saat “ditampar” itu, saya ga seneng. Nangis. Menggugat. Waktu itu, saya ngerasa niat saya baik tapi kok tanggepan orang kayak begini.

Tapi setelah tangisan reda & defensif menurun, saya mulai coba buka pikiran & ternyata memang dirikulah yang harus intropeksi. Semenjak itu, aku mulai belajar diam; dan percayalah, itu ga terlalu mudah hehe.

Belajar diam hasil tamparan itulah yang saya coba bawa ke kesempatan di FIM. Orang-orang di FIM ini adalah orang2 hebat. Tapi mungkin karena kita sudah biasa dapet pengakuan di lingkungan, beberapa diskusi di awal pertemuan berasa semuanya antusias untuk bicara, & sedikit kurang belajar dengerin orang. Baru setelah saling memahami, kita bisa lebih dengerin pendapat masing-masing (dan jadi lebih enak ya diskusinya? :D)

Selempang ini, mungkin bisa saya anggap sebagai bukti dari quote “janganlah kita membenci dari apa yang tidak kita ketaui, padahal bisa jadi itu baik buat kita”. “Ditampar” itu sakit. Tapi ternyata, efek dari tamparan tersebut jadi dasar yang ngebentuk saya sekarang. Tanpa tamparan itu, saya mungkin ga bisa ngerasain nikmatnya dengerin pendapat temen-temen yang luar biasa. Tanpa tamparan itu, mungkin saya tidak akan berada di keadaan ini.

Konspirasi Semesta, lagi – lagi begitu baik.

Terimakasih FIM14 buat pembelajarannya. Already miss you all :_)