DAT 2012 (Day #1) : Kita Indonesia Bangsa Kaya. Kita Indonesia Bangsa Hebat. Tapi…?

“DAT 2012! Buah gagasan, Ragam Gerakan, dalam Semangat SATU ITB

16 – 19 Januari 2012, saya dan temen2 Alhamdulillah berkesempatan mencicipi pembelajaran di Wisma Ciburial Unisba dalam acara Diklat Aktivis Terpusat. Keren ya namanya, “aktivis” hehe. But trust me, kita yang kebetulan di sini bukan orang paling aktif, bukan orang paling eksis di lembaga masing2. Kita cuma orang2 cukup beruntung yang kali ini diberi kesempatan sama lembaga masing – masing buat belajar di kegiatan ini, buat kemudian beramanah nyebarin ilmu yang didapet. Sebaik2nya manusia yang bisa berguna buat sekeliling kan :)

Di sini, saya diberi amanah oleh Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB. Dari HMIF ada Hanif Gilang Ucup Ikhwan Didi Danny SonnyTheo Tikka Rien Firdaus Fakhri dan saya sendiri. Kebetulan, di sini Gilang & Rien sebagai wakil dari unit Amateur Radio Club (ARC), SonnyTheo dari unit UKSU, Firdaus dari Kabinet PSDM, Fakhri dari unit UKMR. Tapi sayang sekali, Hanif di saat terakhir berhalangan ikut karena ada amanah ketua acara di Purwakarta, dan Tikka juga berhalangan. Jadi kami 11 orang bergabung dengan 190 temen2 dari Himpunan2, Unit, dan Lembaga ITB di pembelajaran 4 hari 3 malam. Pembalajaran yang bener2 bikin pengen ngelakuin banyak hal untuk Indonesia, karna ternyata saya memalukan belom berbuat apapun untuk negeri ini & banyak banget yang belom kutau tentang negaraku sendiri yang butuh diperbaiki oleh kita :’)

Moderator     : Laksito Hendri (Menteri Hublu Kabinet KM ITB 2010/11)

Pembicara  : Ramadhani Prayama (Menteri Koordinator Kebijakan Publik Kabinet KM ITB 2010/11)

 “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” – Pasal 33 Point 3 UUD ‘45

Kemiskinan di Indonesia menurun 1 juta orang dari 2010 – 2011 dari 31juta ke 30 juta (data BPS). Dengan segala hormat atas kerja keras pemerintah, ini belom merupakan hal yang bisa dibanggakan. Kenapa? Mari cek fakta ini. Angka pertambahan penduduk Indonesia 4 juta orang/tahun. Dan indikator batas miskin yang dipakai oleh BPS adalah berpenghasilan Rp 211.000/bulan, sedangkan indikator sangat miskin dari Bank Dunia adalah Rp 255.000/bulan. Hmmm terlihat kecil ya perbedaan indikator Rp 44ribu itu, but surprisingly… jumlah itu menentukan batas hidup mati banyak banget rakyat Indonesia :[

Ini miris. Padahal Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, hingga selama beratus-ratus tahun Belanda, Jepang, Inggris saling berebut kepemilikan akan negara kita dengan mengorbankan tentara & uang untuk berperang sengit. Sekarang setelah merdeka, terlalu banyak kepentingan pihak berkuasa terhadap SDA yang menyangkut harkat hidup rakyat. Indonesia adalah negara yang kaya, hanya 43 % anak usia SMA yang bisa sekolah, hanya 13% anak usia kuliah yang bisa melanjutkan kuliah. Indonesia adalah negara yang kaya, banyak rakyat yang mati kelaparan di penjuru negeri.

Pemerintah, sebagai pihak eksekutif yang beramanah memimpin negari, belum menunjukkan kinerja terbaiknya. Sistem birokrasi masih dipenuhi keadaan KKN, banyak lembaga yang boros. Dengan sistem pemilihan langsung sekarang, sebagian yang memenangkan kursi legislatif adalah beliau2 yang punya modal kampanye buat dikenal rakyat.

Keadaan ini diperparah dengan intervensi pihak asing di kepentingan Indonesia. IMF dulu terlihat seperti malaikat penolong memberi uang banyak di waktu krisis Orde Baru Pak Harto, tapi makin ke sini, IMF justru mengambil keuntungan dari bunga pengembalian utang itu (http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2009/06/29/imf-meraup-keuntungan-ditengah-krisis-global/). Indonesia belum berani keluar dari keanggotaan IMF, yang dapat berakibat embargo ekomoni seperti di Iran ataupun seperti Hugos Chaves Presiden Venezuela yang diadili pengadilan internasional karena mengusir perusahaan2 asing.

 

 

Moderator  : Isan (Arsitektur ITB 2007)

Pembicara  : Pak Iwan Hermawan (Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia)

“Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)…”- UU no. 20 tahun 2003 pasal 49 (1)

Berdasar Undang-Undang Pendidikan, masalah utama pendidikan Indonesia adalah infranstruktur, guru, sistem pendidikan, dan tujuan pendidikan. Point pertama, adalah point yang ironis. Karena berdasar UU, alokasi dana untuk pendidikan adalah 20% yang +- bernilai Rp248.978,5 miliar. Tapi ternyata, nominal tersebut masih digunakan untuk hal – hal seperti tunjangan pengajar, biaya pendidikan kedinasan, maupun UKM (http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/16/anggaran-pendidikan-20-untuk-siapa/)

Masalah lain dalam pendidikan ini, sistem bangsa kita cenderung hanya menilai faktor kognitif (kecerdasan) peserta didik tanpa melihat aspek penting lain seperti afektif (emosi) dan psikomotorik :( Padahal ini definisi pendidikan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.Yang berarti peserta didik berhak mendapat apresiasi atas segala potensi dirinya tanpa terbatas kurikulum sekolah!

Time Moves – Menikmati Hidup

Mungkin, diriku sendirilah yang ingin kubuat terkesan – Life Lesson for Women

6 bulan ini, hidupku loncat dari event satu ke event lainnya. Pernah ada waktu dapet amanah di 8 kepanitiaan, dengan di 6 kepanitiaan sebagai posisi yang sama. Di amanah2 itu, keseluruhannya perlu ada badan dan konsentrasi. Plus bonusnya, di waktu yang bersamaan bentrok dengan mengospek dan diospek yang sering makan waktu dari pagi sampe pagi selama 1,5 bulan

Padahal Im totally not a wonder woman. Akhirnya di satu kepanitiaan, aku ga total. Dan di kepanitiaan lainnya, jadi kutu loncat : selese satu kerjaan, move ke kerjaan lain. Banyak bgt orang yang jauh lebih sibuk dari ini, tapi dengan kapabilitasku sekarang, kegiatan2 itu udah kuanggep hectic

Ditambah sifat sok perfeksionis, akhirnya beberapa kali kulakuin sendiri job yang belum beres di luar jobdesku. Ini bikin akademik literally terbengkalai. Harus sering cabut di tengah kelas. Kalopun masuk kelas, lebih konsen nyelesein kerjaan juga. Kehidupan sosial? Ada di prioritas bawah. Sekalinya ada waktu kosong, lebih kumanfaatin buat istirahatin diri sendiri

Semua berubah. Di event2 taun lalu, dengan posisi sama, kulakuin dengan bahagia & niat (insyaAllah) ngebuat semuanya berkembang. Dulu aku berusaha ngehargai pencapaian semua orang. Dulu aku excited & Alhamdulillah banget kalo ada progress kerja. Dulu aku ga ngrasa spesial/penting. Dulu sama sekali ga pengen dapet apresiasi langsung. Tapi sekarang? Nyaris kebalikannya semua. Aku nyelesin kerjaan… ya buat nylesein kerjaan, biar bisa move ke kerjaan lainnya. Mungkin mulutku masih apresiasi, tapi dalam hati aku congkak ngrasa bisa ngelakuin sendiri kerjaan2 itu. Aku nganggep spesial waktuku. Aku pengen show off pencapaian2ku. Pikiran rendah & sombong, terakumulasi di batinku.

Dari semuanya, 2 minggu lalu komentarnya Ryan yang bikin merenung. Ryan Ketua Angkatan STEIku, sahabatku, tempat aku ngungkapin semua tangis karna kejadian TER dulu‘Kamu sebenernya ga bahagia Fir. Kegiatanmu banyak, tapi temen2mu di kegiatan itu cuma selintas2 aja’. Dan yang paling ngena ‘Kamu sebenernya cuma pengen buktiin kamu menang dibanding TA kan’. 

TA adalah pacarnya TER sekarang. Dia dulu salah satu temen deket yang sering kucurhatin tentang TER juga. Senetral yang aku bisa, waktu itu secara resmi aku & TER udah ga ada ikatan apa2, cuma 2-3 kali keluar bareng (yang kusalah artiin). Jadi sebenernya TA ga salah apa2 pacaran sama TER. Persepsiku sendiri aja yang salah : aku anggep TA sahabat dan tau gimana aku sama TER, tapi dia pacaran sama TER. Bahasa jujurnya: aku ngrasa kalah sama TA dalam hal kepemilikan TER.

Makin kucoba berkelit, analisis ini justru makin kerasa benernya

Waktu awal masuk angkatan HMIF 2010, habis Ketua Angkatan terpilih, aku mohon pribadi ke Ketua Angkatan untuk undur diri (karena sebelumnya kebetulan aku ngurus pemilihan Ketua Angkatan). Jujurnya… aku takut misal ada ‘posisi’ di angkatan, bakal kugunain untuk ngehambat TA ‘berkembang’ di angkatan. Baru di waktu ngrasa udah bisa biasa ke TA, akhirnya aku berani bantu2 angkatan.

Di sini semua mulai. Mungkin karna terlalu satu pemikiran sama Ketua Angkatanku, aku jadi terlalu deket sama dia. Worsenya, pas itu lagi ospek, yang salah satu tujuannya nyatuin angkatan. Yang terjadi, ada beberapa informasi yang cuma berkutat di Ketua Angkatanku & aku, dan beberapa orang yang deket sama kita. Kesalahan ini, salah satunya, karena aku secara ga langsung pengen nunjukin ‘supremasiku’ dibanding TA.

Aku udah move on sepenuhnya dari TER, tapi belum move on dari kemarahan sepihak terhadap TA. Lebihnya, aku butuh merasa ‘menang’ dari dia. Ini perasaan orang kalah … merasa ga penting & ga pantes. Semua kehectican ini, semua kepanitiaan2 ini, ternyata untuk ngebuat diri sendiri merasa penting. 

Ini. Sama sekali. Ga worth.

Jujur aku salut dengan Fira yang taun lalu. Fira yang insyaAllah orientasi kerjaannya karena Allah. Fira yang berusaha dengerin orang karena pengen belajar dari semua orang. Dalam bayanganku, Fira masih Fira yang dulu. Tapi orang lain yang sadar Fira udah berubah.

Usahaku untuk membuat diriku sendiri ngrasa Fira itu bukan orang kalah, udah ngubah terlalu banyak hal. Perubahan ini ga ada hubungan sama TA. Bukan dia yang salah, tapi aku pribadi yang mengacau. Harusnya aku sadar, kepemilikan TER bukan masalah menang kalah, itu masalah perasaan yang ga bisa kuubah. Aku mengacau kehidupanku, untuk hal yang sama sekali ga dewasa.

Sekarang, udah cukup dengan semua kehectican-tanpa-menikmati. Sekarang, waktunya aku menata ulang hidupku. Kehidupan sosial bersama sahabat2 lama yang sesemester ini jadi prioritas kesekianku (Andi Hermansyah, Jaisyalmatin Pribadi, Rien Nisa), dan sahabat2 baru yang ternyata super klop. Kehidupan akademik yang sesemester ini nyaris ga kusentuh. Orientasi hidup, passion ngelakuin segala hal, apresiasi tulus.

Banyak yang harus kuperbaiki.

Resolusi 2012

Sekarang waktunya menikmati hidup ☺

Time Moves – Simpan Kotak Kita

Time moves, in different speed – How I Met Your Mother

Mungkin, waktu adalah misteri terbesar yang paling melekat sama kita. Kita bisa masih inget waktu pertama ketemu sama seseorang – obrolan pertama, sudut mulut senyum tertahan kita berdua, gesture tubuh kita yang saling mengikuti – tapi ternyata, waktu dicek di kalender, kejadian2 itu udah lama banget. Tak terjangkau.

Beberapa waktu kemaren, aku masih orang yang terjebak di masa lalu. Aku tau waktu berjalan & semua keadaan ga sama lagi. Aku tau, tapi aku gamau tau

Aku menikmati perkembangan & perubahanku, tapi aku ga pengen sekelilingku berubah. Aku masih pengen keadaan seperti dulu lagi. Beberapa waktu lalu, aku masih terjebak di bayangan TER yang lama.

Senyum lepasnya dia – tulus dan ramah. Dia yang merlakuin aku sebagai Princess. Dia yang selalu berusaha tau apa keinginanku. Dia yang ke orang lain ngomong keras, tapi ke aku selalu selalu lembut. Dia yang tempat curhat sahabat2 cewenya dia, tapi jaga jarak demi ngejaga perasaanku. Dia yang nungguin tidur di kelas abis pelajaran. Dia yang diem2 ngebantu eventku. Dia yang selalu dengerin. Dia yang selalu ada waktu buatku.

Sekarang, semua udah berubah.  TER udah berubah. Aku tau dia masih awesome, tapi sepenuhnya dengan cara lain. TER yang sekarang, bukan TER yang lama lagi.

Fira juga berubah. Bukan cewe histeris lagi. Bukan Fira yang meledak-ledak spontan lagi. Bukan Fira yang nyari negative2nya orang lagi. Bukan Fira manja sok imut lagi. Fira yang sekarang, bukan Fira yang dulu lagi.

Sampe beberapa waktu lalu, Fira yang sekarang jatuh cinta dengan TER yang dulu. Tapi makin hari, Fira tau TER yang dulu udah ga ada. TER adalah TER yang sekarang. Fira adalah Fira yang sekarang. TER yang dulu adalah milik Fira yang dulu. Dari 19 Desember 2007, sampai (maybe) 2010.

Simpen semua kenangan ini. Masukin kotak, bungkus, kasih pita. Simpen rapi semua bayanganku tentang TER yang dulu, untukku sendiri.

Kotak ini, adalah Kotak Pandora yang ga boleh dibuka lagi :)

You Me He She Us (are am is) Beautiful ☺

Semua wanita itu cantik. Semua pria itu ganteng. Everyone has their own beauty 

Beberapa hari lalu, abis nyiapin acara dan tau2 udah Adzan Maghrib, kita kelaparan nyari buka puasa. Komplikasi capek fisik mental kerja dari pagi + besoknya ada kerjaan yang belum dimulai, obrolan kita hari ini random. Emang biasanya kalo sama beliau2 ini obrolan kemana mana, tapi hari ini temanya paling ngena

Berawal dari nanyain percintaan sebut saja IA dan diskusi merembet ke cewe A cantik – cewe B manis. Walau udah kebal sama obrolan khas cowo itu, aku sebagai satu2nya cewe penasaran .. kenapa para cowo diskriminatif, yang diomongin cantik cuma si A si B? Bukannya semua cewe itu cantik?

Cowo, yang notabenya sering diskriminasiin kalo cewe cantik = cuma si-itu & si-ini, juga setuju semua cewe itu cantik. Kalo ega cantik outter, ya pasti punya inner beauty.

Pembicaraan berkembang ke.. emangnya inner beauty itu apaan?

“Inner beauty itu … Di semua kondisi, mau pake apapun, dia keliatan cantik”

“Nyaman sama diri sendiri” “Bisa ngebuat orang2 di sekitarnya nyaman” “Ngehargai orang lain” “Sopan” “Dewasa, bijak” “Sholeh”

Jawabannya : beda2 semua. Menambah kerandoman & demi musyawarah mufakat, kita nyari siapa orang di sekitar kita yang sesuai sama gambaran inner beauty masing2. Ada yang ngajuin A, tapi yang lain ga setuju (“Ga ah, ga terlalu”). Ngajuin lagi si B, tetep ada yang ga sependapat (“Kurang. Dia pilih2 kalo merlakuin orang”).  Dari nama2 yang diajuin, cuma ada 2 orang yang kita sepakatin bareng merupakan representatif orang berinner beauty kuat.

Tadi katanya semua orang punya inner beauty? Kok sekarang cuma nemu 2 orang? Sambil ngehabisin pesenan & ngebicaraan detail acara yang beberapa hari terakhir disiapin, akhirnya kita sepakat :

“Inner beauty itu random, banget. Semua orang pasti mancarin inner beauty, tapi hanya orang berfrekuensi sama yang bisa nangkep. Dan cuma beberapa orang yang mancarin innner beaty cukup kuat untuk bisa ditangkep sama banyak orang”

Random? Ya. Inner beauty itu sesuatu yang unspeakable. Aku pribadi awalnya beranggapan orang berinner beauty itu nyaman sama diri sendiri & ngehargain orang lain. Dewasa, bijak, cerdas dll bakal jadi follow up dari 2 hal tadi. Cewe cantik terlihat dari ketulusan senyuman, cowo ganteng kelihatan dari gesturenya merlakuin orang.

Tapi ternyata, inner beauty bukan sesuatu yang sedangkal itu.

Wanita berbadan subur, kulit gelap, hobi berbagi kesenangan ke panti jompo & panti asuhan? Itu inner beauty

Pria berambut tipis, bermata besar, sehari-hari ngebantuin nenek menyeberang jalan? Itu inner beauty

Cewe langsing, putih, mata bersinar, dan seminggu sekali ke salon full treatment? Merawat untuk menghargai diri sendiri, itu inner beauty

Inner beauty terlalu kompleks buat diucapkan dengan kata, bahkan lukisan. Setiap orang punya inner beautynya masing2.

Look at ourselves. Ngerasa pipi membulat/hidung pesek? Sama sekali bukan masalah, mata yang tulus berbinar bakal bikin orang sepakat kita cantik. Ngerasa kulit gelap? Gelap tapi bersih & terang terawat bakal bikin terlihat eksonik. Kecantikan dari dalam, bakal merembet ke kecantikan fisik.

Postingan ini didedikasiin buat temen2 randomku. Yang dewasa, yang saling ngingetin buat jadi lebih baik, yang saling intropeksi diri, yang bikin betah ngobrol sampe subuh. Yang berinner beauty. Gilang Laksana Laba, Hanif Lyonnais, Yusuf Adi Nugroho, Dimas Angga Saputra, Ikhwanul Hakim. Dan keluarga Inception 2010 ku☺

Syafira Fitri Auliya,

Super enjoying my life now

A year

31 Mei 2011, resmi pensiun dari masa bakti di STEI 2010

Setaun yang super banget. Dengan jabatan yang ga jelas, disini aku belajar banyak. Ada yang bilang aku wakil, ibu angkatan, ibu negara, PJ Cewe and so on. Tapi aku pribadi lebih ngaggep ini pembaktian sebagai pembantu umum. STEI isn’t an organization, i dont really matter what my position is :)

Dan dengan semua salah2 yang kulakuin, banyak yang ngenilai aku terlalu tinggi. Padahal faktanya, aku cuma ga nunjukin stressku di depan umum aja. People should know, di waktu terhectic urusan event2 lain, akademik, & masalah pribadi, aku sempet berminat buat masa bodoh sama urusan STEI.

Satu yang bisa aku banggain, di waktu stress itu aku memilih buat diem merenung bentar. Look back, apa aja yang udah aku dapet di STEI : Aku belajar buat neken ego pribadi jauh jauh dibawah. Belajar liat sudut pandang banyak orang. Belajar misahin masalah pribadi & kerjaan. Belajar nerima tanggung jawab dari problem orang lain. Belajar ngatur waktu & emosi. Belajar nerima keadaan orang2….

Sejujurnya, bukan aku yang ngasih banyak hal ke STEI. Tapi STEI yang ngasih luar biasa banyak ke aku. Terlalu banyak, dan aku ngrasa ada kepuasan pribadi do my best buat nylesein apa yang bisa kulakuin

Aku seneng bisa ngechecklist deretan kegiatan yang direncanain. Aku seneng bisa ngasih partisipasi buat nyelesein masalah. Aku seneng liat temen2 puas sama hal yang kuusahain.

Dari semuanya, kredit luar biasa jatuh ke Ryan Aldiansyah Akbar ketua angkatanku yang udah ngasih kesempatan buat berkarya. Ryan yang nyebelin, tapi juga sahabat yang paling nyokong disaat aku terjatuh keras.

Syafira Fitri Auliya,

I already miss my STEI 2010

Semua capek fisik & mental, terbayar lunas.

Thats Me.

Masih berkutat berdamai dengan hati sendiri. 3 minggu sejak postingan terarkhir, rasanya semakin hari semakin membaik. Masalah emang ga berubah, tapi cara menyikapi masalah itu yang jadi lebih baik :)

Dengan malu kuakui, ada beberapa saat sempet tertarik jadi peran antagonis di sinetron2 Indonesia : nyebarin cerita + bumbu2, bullying tak langsung, cari sekutu. Believe me, aku malu banget ngakui ini. Disaat itu, aku harus bener2 ngomong ke diri sendiri : what for? Buat apa semua itu? Satu2nya alasan cuma buat pembenaran pribadi. Dan. Itu. Sama sekali ga worth buat apapun.

Tersakiti, bukan berarti harus nyakitin orang. Coba liat sudut pandang pihak lain. Ikhlasin, percaya ini proses pendewasaan yang disediain Allah.

Dan tunggu, kejutan luar biasa apa yang bakal terjadi buatmu. ☺

Syafira Fitri Auliya,

Congratulation TER&T. Must be happy

18 → 19

Kesempatan menjadi dewasa, datang di waktu yang sebenernya ga diharapin

Persis di hari terakhir usia 18 tahun, aku harus move on dari orang yang bener2 pengen aku tunggu selama 1-2 tahun ke depan. The same man yang sering kumention di postingan blog ini. The same man yang bikin aku memilih single di berbagai kesempatan. The same man yang dengan malu udah kubayangin gonna be a good child’s-father

Dan untuk subjek & waktu yg sama, aku harus kehilangan  kepercayaan terhadap orang2 yang kuanggep sahabat di sini

Ngabaiin semua pikiran mateng, aku ga pernah bayangin bakal nangis ga merhatiin tempat. Perasaan down, amarah, hilang kepercayaan diri bener2 bersaing dengan usahaku untuk tenang & mencoba bersikap dewasa. Detik memiliki angka 19, kujadiin ajang memohon ke Sang Maha Pemberi Ketabahan. Memohon kado ketenangan dari Yang Maha Pemurah

And.. at this point, aku bener2 ngerasa Allah Maha Segalanya. Dia bener2 memberi waktu & kesempatan buatku nenangin diri. Dia bener2 memberi temen2 luar biasa yang perhatian & maklum aku ga cerita banyak. Dia bener2 memberi moment buat ketawa lepas. Di akhir 4 kejutan luar biasa tanggal 20 April, aku akhirnya dikasih pemahaman kalo im not alone.

Dan sekaligus, aku sadar bahwa ekspektasi orang2 ke aku sangat-terlalu-bagus. Ekspektasi yang bikin malu karna aku sama sekali ga ngrasa sebagus itu…

Aku belom merasa dewasa. Aku cuma udah terlalu lama bersikap childish & pengen ngerasain gimana rasanya mencoba dewasa

Aku belom merasa bijak. Aku cuma udah terlalu lama keras kepala dan egois, dan pengen mencoba ngeliat view of point orang lain

Aku belom merasa dedikatif. Aku belom merasa ga bedain orang. Di balik semua ekspektasi yang kurasa terlalu tinggi, sebenernya ada alasan yang lebih rendah. Tapi justru, ekspektasi itu yang akhirnya bikin aku kuat. Akhirnya, aku mau berusaha tenang & ngenali diri sendiri : apa yang sebenernya kupengenin?

Nyimpen amarah ke orang? Jelas sama sekali ga nenangin batin. Ini sama sekali ga gampang, semakin dipikir semakin memperbusuk hati. Tapi, disinilah kedewasaan dituntut buat ada. Jangan selalu nempatin diri sebagai pihak korban. Intropeksi, rendahkan hati, yakini kalo selama ini aku punya kesalahan ke mereka. Dan setelah tenang, beri penghargaan ke diri sendiri untuk memaafkan.

Untuk move on, tanya ke diri sendiri : apa sebenernya yang selama ini bikin enggan move on? Ternyata jawabannya : selama ini aku dilingkupi rasa bersalah. Dimulai 19 September 2007, selama pacaran aku belom pernah bersikap layaknya pacar yang baik. Dan dengan penuh kesombongan, sekarang aku merasa udah cukup bisa jadi pacar yang lebih baik. Alasan ini yang bikin aku nunggu kesempatan untuk memperbaiki penilaianku dimata dia. Ini, sama sekali bukan alasan yang cukup dewasa

Untuk move on, tanya ke diri sendiri : apa bener dia yang kamu tunggu? Setelah sekian lama tanpa komunikasi, aku hampir ga ngenali siapa orang yang ngomong di depanku kemaren. Selama ini, ternyata, aku nunggu Topan Eko Raharjo yang dalam imaginasiku. Sama sekali bukan untuk menekankan bahwa dia jelek. Believe me, he‘s great. Tapi tersadar bahwa aku terjebak dalam imaginasiku sendiri ternyata alasan yang paling bikin lega. Paling bikin merasa, kali ini aku bisa move on

Syafira Fitri Auliya,

Mengenal diri sendiri, kado paling berharga dari Allah.